Anggota DPD Asal DKI Jakarta Fahira Idris mengaku kecewa atas koreksi Kapuspen TNI Mayjen M Fuad Basya yang mengklarifikasi pernyataan Panglima TNI, bila jilbab yang diperbolehkan untuk Korps Wanita TNI bukan untuk pakaian dinas, tetapi hanya untuk pakaian sehari-hari.

Fahira, pada Jum’at (29/5) mengatakan bahwa dia juga kecewa, tetapi dia yakin hal itu hanya persoalan waktu saja. Seperti saat di kepolisian yang sempat ditunda beberapa kali sebelum akhirnya resmi diperbolehkan lewat keputusan kapolri.

Fahira mengatakan, ada baiknya TNI saat ini memikirkan kembali dan melakukan kajian apakah aturan yang membolehkan Kowan TNI mengenakan jilbab benar-benar akan mempengaruhi soliditas di antara para prajurit, seperti alasan yang diungkapkan Kapuspen TNI.

Menurut Fahira, sebagai penjaga dan pengamal utama Pancasila dan UUD 1945, segala kekhawatiran bahwa pengenaan jilbab di kalangan Wan TNI akan mengganggu soliditas harusnya bisa ditepis. Karena, bagi semua muslimah tak perduli profesinya apa, mengenakan jilbab adalah bentuk ibadah, dan UUD 1945 menjamin warga negara Indonesia untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya masing-masing.

Fahira berharap, TNI bisa menggali informasi lebih dalam lagi mengenai penggunaan jilbab di kalangan militer dari  beberapa negara dunia terutama di negara-negara di mana muslim bukan mayoritas.

[al-khad/salamfm/red: shodiq ramadhan]

%d blogger menyukai ini: