Pembaca yang budiman, pada pembahasan sebelumnya kita telah mengkaji tingkatan yang ketiga dari empat tingkatan takdir, yaitu tingkatan al-Iraadah dan al-Masyii’ah atau kehendak Allah dan keinginan-Nya.

Kehendak Allah itu pasti terlaksana karena kekuasaan-Nya sangat sempurna, meliputi segala sesuatu. Apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi, meskipun manusia berupaya untuk menghindarinya, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, maka tidak akan terjadi, meskipun seluruh makhluk berupaya untuk mewujudkannya.  Allah  berfirman dalam QS. Al-An’aam ayat 125,

فمن يردالله أن يهديه يشرح صدره للإسلام ۚومن يرد أن يضله يجعل صدره ضيقاحرجا

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit.” (QS. Al-An’aam: 125)

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan kalian tidak dapat menempuh jalan itu kecuali apabila dikehendaki oleh Allah Rabb semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)

Nabi  juga bersabda,

إن قلوب بني أدم كلها بين إصبعـين من أصا بع الرحمن كـقلب وا حد يصرفه حيث يشاء

“Sesungguhnya hati-hati manusia seluruhnya di antara dua jari dari jari jemari Ar-Rahmaan, seperti satu hati, Dia memalingkannya kemana saja yang Ia kehendaki.” (H.R Muslim)

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Para ulama telah bersepakat tentang wajibnya beriman kepada qadha’ dan qadar Allah yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit, yang sedikit maupun yang banyak. Tidak ada sesuatu pun terjadi kecuali atas kehendak Allah dan tidak terwujud segala kebaikan dan keburukan kecuali atas kehendak-Nya. Dia berkehendak menjadikan siapa saja menjadi penhuni surga dan berhak menjadikan siapa saja menjadi penghuni neraka, tentunya dengan didasari hikmah dan keadilan-Nya. Ini merupakan ilmu yang disembunyikan dari seluruh makhluk-Nya.”

Pembaca yang dirahmati Allah. Sekarang kita masuk ke tingkatan yang Keempat yaitu al-Khalq, Penciptaan-Nya.

Allah adalah Pencipta atau Khaliq, segala sesuatu tidak ada penciptanya selain Allah, dan segala sesuatu selain Allah adalah makhluk atau yang diciptaka-Nya. Sebagaimana firman Allah  ,

الله خـلق كل شىء ۖوهو على كل شىء وكيل

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)

Meskipun Allah telah menentukan takdir atas seluruh hamba-Nya, bukan berarti bahwa hamba-Nya dibolehkan untuk meninggalkan usaha. Karena Allah telah memberikan kemampuan dan masyii-ah atau keinginan kepada hamba-hamba-Nya untuk mengusahakan takdirnya. Allah juga memberikan akal kepada manusia, sebagai tanda kesempurnaan manusia dibandingkan dengan makhluk-Nya yang lain, agar manusia dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. Allah tidak menghisab hamba-Nya kecuali terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukannya dengan kehendak dan usahanya sendiri. Manusialah yang benar-benar melakukan suatu amal perbuatan, yang baik dan yang buruk tanpa paksaan, sedangkan Allah-lah yang menciptakan perbuatan tersebut. Hal ini berdasarkan firman-Nya,

والله حلقكم وما تعملون

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat itu.” (QS. Ash-Shaaffaat: 96)
Dan Allah  juga berfirman,

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Pembaca yang dirahmati Allah. Beriman kepada takdir akan mengantarkan kita kepada sebuah hikmah penciptaan yang mendalam, yaitu bahwasanya segala sesuatu telah ditentukan. Sesuatu tidak akan menimpa kita kecuali telah Allah tentukan kejadiannya, demikian pula sebaliknya. Apabila kita telah faham dengan hikmah penciptaan ini, maka kita akan mengetahui dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu yang datang dalam kehidupan kita tidak lain merupakan ketentuan Allah atas diri kita. Sehingga ketika musibah datang menerpa perjalanan hidup kita, kita akan lebih bijak dalam memandang dan menyikapinya. Demikian pula ketika kita mendapat giliran memperoleh kebahagiaan, kita tidak akan lupa untuk mensyukuri nikmat Allah yang tiada henti.

Manusia memiliki keinginan dan kehendak, tetapi keinginan dan kehendaknya mengikuti keinginan dan kehendak Rabb-Nya. Manhaj Ahlus Sunnah menetapkan dan meyakini bahwa segala yang telah ditentukan, ditetapkan dan diperbuat oleh Allah memiliki hikmah dan segala usaha yang dilakukan manusia akan membawa hasil atas kehendak Allah.

Ingatlah saudaraku, tidak setiap hal akan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka hendaklah kita berserah diri dan beriman kepada apa yang telah Allah tentukan. Jangan sampai hati kita menjadi goncang karena sedikit bisikan-bisikan dan pikiran-pikiran yang akan mengurangi nikmat iman kita. Dengarlah sabda Nabi kita

Yang artinya, “Bersemangatlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan keapda Allah dan jangan sampai kamu lemah dari semangat. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata ‘seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah ‘Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan terjadi.’ Karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ itu akan mengawali perbuatan syaithan.”
(H.R Muslim)

Tidak ada seorang pun yang dapat bertindak untuk mengubah apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Maka tidak ada seorang pun juga yang dapat mengurangi sesuatu dari ketentuan-Nya, juga tidak akan bisa menambahnya. Ini adalah perkara yang telah ditetapkan-Nya dan telah selesai penentuannya. Pena telah terangkat dan lembaran telah kering.

Pembaca yang dirahmati Allah. Berdalih dengan takdir diperbolehkan ketika mendapati musibah dan cobaan, namun jangan sekali-kali berdalih dengan takdir dalam hal perbuatan dosa dan kesalahan. Setiap manusia tidak boleh memasrahkan diri kepada takdir tanpa melakukan usaha apa pun, karena hal ini akan menyelisihi sunnatullah. Oleh karena itu berusahalah semampunya, kemudian bertawakkallah.

Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

وتوكل على الله ۚ إنه هو السميع العليم

“Dan bertawakkallah kepada Allah, Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfaal: 61)

ومن يتو كل على الله فهو حسبه

“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Pembaca yang dirahmati Allah. Dan jika kita mendapatkan musibah atau cobaan, janganlah berputus asa dari rahmat Allah, tetapi bersabarlah. Karena sabar adalah perisai seorang mukmin, dan sabar akan yang membuahkan kemenangan. Ingatlah bahwa musibah atau cobaan yang menimpa kita hanyalah musibah kecil, karena musibah dan cobaan terbesar adalah wafatnya Rasulullah  sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits.

إذا أصاب أحدكم مصيبة فليذكر مصيبة بى, فإنها من أعظم المصائب

“Jika salah seorang diantara kalian tertimpa musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku, sungguh ia merupakan musibah yang paling besar”. (H.R Ibnu Sa’ad dan Ad-Darimi)

Pembaca yang dirahmati Allah. Apabila hati kita telah yakin dengan setiap ketentuan Allah, maka segala urusan akan menjadi lebih ringan, dan tidak akan merasa gundah maupun gelisah, kita akan lebih bersemangat lagi dalam melakukan segala urusan tanpa merasa khawatir mengenai apa yang akan terjadi dikemudian hari. Karenanya kita akan menggenggam tawakkal sebagai perbekalan ketika menjalani urusan dan kita akan menghunus kesabaran kala ujian datang menghadang.

Pembaca yang dirahmati Allah. Demikianlah, beriman kepada takdir ternyata memiliki kedudukan yang sangat penting dalam agama Islam. Hal ini ditunjukan dengan banyaknya dalil dalam Al Qur’an maupun Sunnah yang membahas tentang hal ini. Selain itu, di dalam Al Quran dan as-Sunnah juga dijelaskan beberapa buah manis serta hikmah yang akan didapat dari keimanan kepada takdir, semoga dengan pembahasan kali ini kita semakin yakin terhadadap takdir Allah yang baik maupun yang buruk semua atas kehendak-Nya. Semoga bermanfaat.

Wallahua’lam.

%d blogger menyukai ini: