Sahabat yang dirahmati Allah, Tidak dapat diragukan lagi bahwa orang tua memiliki cinta yang tulus kepada anaknya. Bukan hanya harta, nyawa pun rela ia korbankan demi buah hatinya. Sakit dan derita tak bisa menghalangi cinta kasihnya.

Islam pun memandang orang tua sebagai sesuatu yang sakral. Berulang kali Allah swt menggandengkan masalah tauhid dengan bakti kepada orang tua. Ketika berbicara tentang Syukur, Allah mewajibkan syukur kepada orang tua setelah kewajiban syukur kepada-Nya.

Dalam Al-Qur’an juga  Allah menggandengkan masalah tauhid dengan berbakti kepada orang tua sebanyak 4 kali. Ketika kita dilarang menyekutukan Allah dalam bentuk apapun, Allah langsung menggandengkannya dengan perintah untuk bakti kepada orang tua. Betapa agungnya kedudukan orang tua hingga disandingkan dengan masalah tauhid.  salah satunya disebutkan di dalam quran surat al-Isra ayat 23 dan 24.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً -٢٣-

Dan Tuhan-mu telah Memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.”

Ayat tersebut telah membuktikan betapa agungnya kedudukan orang tua disisi Allah subhanahu wa ta’ala.  Karena seluruh karunia Allah tidak akan sampai pada seseorang tanpa jasa dari orang tuanya.

Kenapa Allah menyandingkan perintah mentauhidkan-Nya dengan berbuat baik kepada orang tua?. Karena berbuat baik kepada orang tua adalah bentuk syukur kita kepada keduanya sekaligus bentuk syukur kepada Allah. Memperlakukan kedua orang tua dengan lembut, tidak membebani keduanya, dan menghormati orang tua adalah bentuk syukur kepada kedua orang tua.

Tentang Tafsir kata Al-Ihsan atau berbuat baik pada orang tua, Imam Ja’far ath-Thobari rahimahullah menekankan agar kita memenuhi kebutuhan orang tua sebelum diminta. Jangan sampai mereka harus meminta sesuatu kepada kita karena hal itu akan menjadi beban dalam hati mereka.

Orang tua sering merasa malu ketika harus meminta kepada anaknya. Dia tidak ingin membebani anaknya. Namun terkadang ia sudah tidak mampu untuk mencukupi dirinya sendiri. Jangan posisikan mereka sebagai orang yang butuh hingga harus meminta kepada kita. Padahal semua miliki kita adalah miliki orang tua. Dan seorang anak tidak akan pernah mampu membalas jasa kedua orang tuanya.

Masalah orang tua bukan lagi terkait dengan agama atau kepribadian orang tua. Seperti halnya amanah, Ketika ada seorang menitipkan suatu amanat, kita wajib untuk menyampaikannya walau orang itu adalah orang yang buruk, jahat bahkan kafir sekalipun. Masalah orang tua pun demikian. Tak peduli mereka itu baik atau jahat, muslim atau non muslim, kita sebagai anak harus menghormatinya dan tetap berbuat baik kepada mereka.

Berkaitan dengan hal ini, ada kisah menarik yang bisa kita jadikan bahan renungan bersama.

Suatu hari, ada seorang yang menggendong ibunya untuk tawaf di Ka’bah. Setelah selesai, dia mendatangi Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, lalu berkata.“Wahai Rasulullah, sudahkah aku membalas kebaikan ibuku?.”

Rasul menjawab.“Engkau belum membalas kebaikannya walau hanya satu rasa sakit saat melahirkanmu!.”

Mengapa kita sibuk mencari kebahagiaan di dunia luar. Menghabiskan waktu dan tenaga untuk meraih kesuksesan yang kita idam-idamkan. Padahal kebahagiaan sejati kita ada di rumah. Yakni dengan berbakti kepada kedua orang tua.

Sayangnya, banyak orang yang menelantarkan kedua orang tua dengan alasan sibuk kerja. Ada yang menitipkan orang tua di panti jompo. ada juga yang tidak atau jarang menjenguk orang tua di kampung dengan alasan tuntutan kerja yang menyibukkan.

Mustahil seorang akan mendapat kebahagiaan jika dia harus mendapatkannya dengan menyakiti hati orang tua dengan mengabaikan mereka.

Kenapa kita bingung mencari tempat untuk berdoa, memohon kesana kemari untuk meminta doa, padahal masih ada keberuntungan terbaik kita di rumah?. Yakni doa orang tua.

Mari kita bersama-sama untuk memperbaharui rasa syukur kita kepada Allah dengan rasa syukur kepada kedua orang tua kita, yakni dengan berbakti sepenuh hati, dan memuliakan orang tua. Wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: