Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh,

 

Sahabat yang semoga dirahmati Alloh , salah satu rukun iman yang harus diyakini oleh setiap muslim adalah iman kepada para rosul, terutama Rosululloh . Bukti utama beriman kepada Rosululloh adalah ittiba’ atau mengikuti Rosululloh . Orang-orang yang melakukan ittiba’ kepada Rosululloh akan meraih banyak manfaat dan buah positif.

Di antara buah positif yang akan didapat oleh pengikut Nabi adalah: mahabbatulloh atau kecintaan dari Alloh , kasih sayang Alloh , petunjuk dari-Alloh , akan masuk ke dalam surga bersama orang-orang pilihan, mendapatkan syafaat dari Rosululloh , muka yang bersinar dan berseri di surga, menjadi tetangga Rosululloh di surga, meperoleh kemuliaan jiwa di dunia dan akhirat, kemenangan dan keberuntungan. Semua itu jelas merupakan as-sa’adah atau kebahagiaan hakiki di dunia maupun di akhirat.

Beriman kepada para Rosul adalah salah satu rukun iman dari rangkaian kesatuan 6 rukun iman. Mengingkari salah satu rukun iman berarti mengingkari semuanya, begitu pula dengan iman kepada rosul.

Bukti keimanan kepada Rosululloh yang paling utama adalah mengikuti beliau dalam segala sisi kehidupannya, selalu menaati beliau dalam setiap perintah dan larangan yang beliau sampaikan. Sebab, mengikuti dan menaati Rosululloh adalah bukti ketaatan kita kepada Alloh dan mengikuti sunnah Rosululloh adalah bukti konkret mengikuti Al-Qur’an.

Barangsiapa mengaku menaati Alloh namun tidak mau ittiba’ atau mengikuti Rosululloh , maka ketaatannya itu tidak sah menurut Al-Qur’an dan Rosululloh berlepas diri dari orang tersebut. Dan siapapun yang mengaku melaksanakan Al-Qur’an namun tidak ittiba’ dengan sunnah Rosululloh maka pengakuannya hanyalah pengakuan palsu belaka.

Sebagai contoh, untuk dapat melaksanakan sholat dengan sempurna kita memerlukan hadits Rosululloh -saws-  karena Al-Qur’an hanya memerintahkan kita mendirikan sholat tanpa menjelaskan rincian tata cara sholat. Bahwa sholat diawali dengan takbiratul ihrom dan diakhiri dengan salam merupakan penjelasan yang kita temukan dalam hadits Rosululloh , tidak dalam Al-Qur’an. Begitu pula dengan rincian pelaksanaan zakat, shoum atau puasa , haji, dan ibadah-ibadah lain. Intinya, fungsi hadits Rosululloh adalah menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an atau dengan bahasa lain kita tidak akan bisa mengamalkan Al-Qur’an tanpa mengikuti sunnah Rosululloh .

Salah seorang ulama besar, Fudhail bin ‘Iyadh , ketika menjelaskan makna “Ahsanu ‘amala” dalam surat Al-Mulk ayat 2 berkata,

أَحْسَنُ عَمَلاً : أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ. قَالَ: فَإِنَّ العَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصاً وَلَمْ يَكُنْ صَوَاباً لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَاباً وَلَمْ يَكُنْ خَالِصاً لَمْ يُقْبَلْ، حَتَّى يَكُوْنَ خَالِصاً صَوَاباً، وَالْخَالِصُ أَنْ يَكُوْنَ لِلهِ، وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُوْنَ عَلَى السُّنَّةِ.

“Yang dimaksud dengan ahsanu’ amala atau amal yang terbaik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Karena sebuah amal jika dilakukan dengan ikhlas tapi tidak benar, maka amal itu tidak diterima oleh Alloh . Begitu pula sebaliknya, jika amal itu benar tapi tidak ikhlas, juga ditolak oleh Alloh . Baru diterima jika memenuhi kedua syarat tersebut yaitu ikhlas dan benar. Yang dimaksud dengan ikhlas adalah semata karena Alloh, sedangkan yang dimaksud dengan benar adalah mengikuti sunnah Rosululloh ”.

Sedangkan dalam hadis dari Abu Musa-rau- disebutkan;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((مَثَلِي وَمَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى قَوْمًا فَقَالَ رَأَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَيَّ وَإِنِّي أَنَا النَّذِيرُ الْعُرْيَانُ فَالنَّجَا النَّجَاءَ فَأَطَاعَتْهُ طَائِفَةٌ فَأَدْلَجُوا عَلَى مَهَلِهِمْ فَنَجَوْا وَكَذَّبَتْهُ طَائِفَةٌ فَصَبَّحَهُمْ الْجَيْشُ فَاجْتَاحَهُمْ)).

Rosululloh telah bersabda, “Perumpamaanku dan perumpamaan risalah yang diberikan Alloh kepadaku seperti seorang laki-laki yang mendatangi suatu kaum lalu ia berkata, ‘Aku telah melihat pasukan tentara dengan kedua mataku, kuperingatkan kalian dengan sungguh-sungguh! Segeralah cari selamat dari keganasan mereka!’ Lalu sebagian mereka mentaatinya sehingga mereka segera menghindar dari pasukan kejam itu hingga selamat, sedangkan yang lain mendustakannya hingga pasukan itu menemui mereka dan meluluhlantakkan mereka.” (HR. Al-Bukhori)

Kita dapat merasakan dari hadits shahih ini betapa Rosululloh amat ingin menyelamatkan kita dari bencana dunia dan akhirat dengan syariat dan dakwah yang ia bawa, karena syariat Islam adalah penyelamat bagi kita dari kehinaan dunia dan penderitaan di akhirat.

Sahabat yang semoga dirahmati Alloh , semoga pembahasan kali ini bermanfaat bagi kita semua, dan menjadikan kita mudah dalam mengikuti syariat yang dibawa oleh Rosululloh dan semoga juga kita mudah dalam menerima kebenaran walaupun itu dirasa berat menjalankannya. Wallohu a’lam

 

Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.