Oleh: Ibrahim Bafadhol, S.H.I.

Di antara nama-nama Alloh subhanahu wa ta’ala yang Maha indah adalah al-Haadi. Makna al-Haadi adalah yang memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya dan menunjuki mereka kepada kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat. Dengan petunjuk (hidayah)-Nya, orang beriman dan beramal sholih mendapat petunjuk untuk taat dan meraih keridhaan-Nya. Dengan hidayah-Nya pula, hewan mendapat petunjuk untuk meraih kemashlahatan dan menjauhi apa yang membahayakan.

Alloh-lah yang menciptakan semua makhluk dan memberinya hidayah,

 الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ (2)  وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ (3)

“Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (QS. Al-A’laa [87]: 2-3)

Dia memberi hidayah yang sempurna untuk kemaslahatan mereka dan menyiapkan mereka untuk melaksanakan tujuan penciptaan mereka. Dia menjelaskan kepada mereka (kebenaran) dan menurunkan kitab-kitab-Nya, yang halal dan yang haram, menjelaskan pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya. Dia menunjukkan dan menjelaskan jalan yang lurus yang dapat menyampaikan kepada keridhoan dan pahala-Nya. Dia menjelaskan kepada mereka, jalan-jalan yang menyimpang agar para hamba-Nya menjauhinya. Dia pun memberikan hidayah taufik kepada keimanan dan ketaatan serta menunjukkan kepada mereka tempat tinggal mereka di surga, sebagaimana Dia juga menunjukkan mereka di dunia kepada semua jalan.

Disini ada sedikit penjelasan tentang macam-macam hidayah yang dinisbatkan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dan yang terkandung dalam nama-Nya “Al-Haadi”.

  1. Hidayah yang umum

Yaitu hidayah untuk setiap jiwa kepada kemaslahatan hidupnya dan apa yang dapat menopangnya. Ini adalah hidayah yang umum mencakup semua hewan, hewan ternak, burung, binatang melata, manusia yang Arab maupun yang ajam (asing).

Diantara hidayah terebut adalah Alloh memberikan hidayah kepada binatang ternak untuk menyusu kepada induknya setelah dilahirkan dan untuk mengenal siapa induknya hingga ia selalu berjalan mengikutinya, serta untuk mendapatkan kemaslahatan seperti tempat mencari makanan dan menghindarai mara bahaya. Di antaranya pula, hidayah Alloh subhanahu wa ta’ala kepada seekor burung, binatang buas, dan binatang melata untuk berbuat perbuatan yang luar biasa yang tidak bisa dilakukan oleh manusia, seperti diberikannya hidayah kepada lebah untuk melewati jalan yang terdapat di dalamnya tempat makanan mereka meskipun berjauhan dan mereka dapat kembali lagi ke sarang mereka melewati pepohonan, pegunungan dan apa yang dibangun oleh manusia.

Sebagaimana Alloh subhanahu wa ta’ala memberikan hidayah kepada seekor semut kecil yang keluar dari sarangnya, mencari makanannya meski jauh. Jika mendapatkan makanan tersebut, dia membawa dan menyeretnya melewati jalan yang berliku, naik, turun yang sulit hingga dia sampai kepada sarangnya, lalu ia menyimpan makanannya. Ini adalah pembahasan yang sangat luas dan cukuplah firman Alloh,

 وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ 

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan mereka umat-umat (juga) seperti kalian. Tiadalah Kami lupakan sesuatupun dalam al-Kitab, kemudian kepada Alloh-lah mereka dihimpunkan.” (QS. Al-An’am [6]: 38)

  1. Hidayah Ar-Irsyad dan Al-Bayaan

Bagi manusia yang telah terbebani kewajiban, ini adalah hujjah Alloh subhanahu wa ta’ala atas makhluk-Nya yang Dia tidak mengazab seseorang dari manusia, melainkan setelah ditegakkan hujjah padanya,

أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ  

“Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Alloh, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Alloh), atau supaya jangan ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya Alloh memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zumar [39]: 56-57)

 وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَىٰ عَلَى الْهُدَىٰ فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ 

“Dan adapun Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Fushshilat [41]: 17)

Maksudnya Alloh telah memberikan hidayah al-bayan (keterangan), tetapi mereka tidak mau mengambil petunjuknya, maka Alloh pun mengazab mereka karena mereka meninggalkan petunjuk-Nya.

  1. Hidayah taufik dan ilham serta melapangkan dadanya untuk menerima kebenaran dan ridha terhadapnya.

 مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka dialah orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Kahfi [18]: 17)

  فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ 

“Maka sesungguhnya Alloh menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Fathir [35]: 8)

 لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ 

“Bukanlah kewajibanmu (wahai Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Alloh-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 272)

Oleh karena itu, Alloh subhanahu wa ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk memohon kepada-Nya, hidayah kepada jalan yang lurus setiap hari pada shalat lima waktu. Di dalam hadits yang shahih terdapat banyak doa yang didalamnya ada permintaan hidayah, ketetapan dalam kebaikan dan kelurusan. Selain itu ada permintaan untuk diselamatkan dari kesesatan dan kemiringan hati. Ini semua adalah perkara yang ada di tangan Alloh, Dia memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki.

 وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي الظُّلُمَاتِ ۗ مَنْ يَشَإِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ 

“Barangsiapa yang dikehendaki Alloh (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Alloh (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Al-An’am [6]: 39)

  1. Hidayah kepada surga dan neraka pada hari kiamat kelak.

Adapun hidayah kepada surga, maka Alloh subhanahu wa ta’ala telah mengabarkan tentang penghuninya bahwa mereka mengatakan ketika telah sempurna kenikmatan yang mereka dapatkan:

 وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ 

“Segala puji bagi Alloh yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Alloh tidak memberi kami petunjuk.” (QS. Al-A’rof [7]: 43)

Adapun hidayah kepada neraka, maka Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

 احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ (22)  مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ (23)

“(Kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Alloh; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.”” (QS. Ash-Shoffat [37]: 22-23)

Sesungguhnya perenungan seorang hamba terhadap nama Alloh yang mulia ini akan menyingkapkan bagi seorang hamba, betapa fakir dan butuhnya ia kepada Robbnya dalam segala urusannya, baik yang bersifat dunia maupun agama, yaitu agar Dia memberi hidayah kepadanya untuk memperbaiki urusannya dan melindunginya dari kesesatan dan penyimpangan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata, “Ketika seorang hamba selalu membutuhkan hidayah ini dalam segala urusan yang dia kerjakan atau yang dia tinggalkan, juga dari hal-hal yang ia lakukan tanpa hidayah, maka ia selalu membutuhkan untuk rujuk (bertaubat) darinya. Selain itu, terhadap perkara yang ia diberi hidayah pada pokoknya saja tanpa cabang-cabangnya, atau dia diberi hidayah kepada hal tersebut dari satu sisi tanpa sisi yang lain, maka ia membutuhkan tambahan hidayah untuk memperoleh kesempurnaannya. Terhadap hal-hal yang dia membutuhkan hidayah tersebut pada waktu yang akan datang seperti yang ia dapatkan pada waktu yang telah berlalu. Terhadap hal-hal yang kosong dari keyakinan di dalamnya, maka dia membutuhkan untuk diberi hidayah kepadanya. Terhadap hal-hal yang tidak dia kerjakan, maka dia membutuhkan hidayah untuk dapat melakukannya, dan masih banyak lagi macam-macam hidayah serta rincian- rinciannya. Alloh memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk memohon hidayah tersebut pada waktu yang termulia, yaitu shalat, yang dilakukan berkali-kali sehari semalam. Sungguh Alloh I menjelaskan bahwa orang-orang yang mendapatkan nikmat ini adalah orang-orang yang bertolak belakang dengan orang-orang yang dimurkai, yaitu kaum Yahudi dan juga yang tersesat,yaitu kaum Nashrani.”

Ya Alloh, tunjukkan kami kepada jalan-Mu yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai atau jalan mereka yang tersesat.

%d blogger menyukai ini: