Oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, M.E.I

Alloh subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dengan sebaik-baik peciptaan. Manusia adalah makhluk yang dimuliakan dan sempurna bentuk rupanya. Kesempurnaan bentuk manusia menunjukan kesempurnaan Alloh subhanahu wa ta’ala sebagai Pencipta manusia dan alam semesta.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Qur’an:

 لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sungguh kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya penciptaan.” (QS. at-Tin [95]: 4)

al-Hafidz Ibn Katsir rohimahulloh menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, “Dia telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk dan rupa dengan berbadan tegap serta anggota badan yang baik.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, 8/435)

Syaikh Abdurrahman ibn Nasir al-Sa’di rohimahulloh menjelaskan, “Dengan nikmat yang agung ini maka seharusnya manusia mensyukurinya, namun kebanyakan mereka telah menyimpang dari mensyukuri Alloh yang memberikan nikmat.” (Taisir al-Karim al-Rohman, hlm. 888)

Di antara perbuatan yang dikategorikan tidak mensyukuri nikmat Alloh dan termasuk usaha merubah ciptaan adalah mentato anggota badan. Yang dimaksud dengan tato sebagaimana dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah “Gambar (lukisan) pada kulit.” Sedangkan pengertian mentato, “Melukis pada kulit tubuh dengan cara menusuki kulit dengan jarum halus kemudian memasukan zat warna ke dalam bekas tusukan itu.” (Kamus Besar Bahasa Indonesia, hlm. 1441)

Syaikh Muhammad as-Syarif menjelaskan tentang tato: “Tato artinya menusukan jarum atau semisalnya pada anggota tubuh yang ingin dibuatkan tato hingga darah mengalir kemudian tempat yang ditusuk itu lalu disisipi dengan bunga atau sejenisnya hingga menghijau. Tato ada yang berbentuk bulat, lukisan atau ukiran; bisa banyak atau sedikit.” (40 Hadits wanita, hlm. 333)

al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh juga menjelaskan, “Tato bisa dibuat di tangan atau bagian tubuh lainnya. Adakalanya berbentuk ukiran, bulat, bahkan ditulis dengan nama kekasih.”  (Fath al-Bari, Jilid 10, hlm. 457)

Perbuatan mentato ini tidak selaras dengan akhlak Islam yang mengajarkan keindahan lahir dan batin. Dalih seni dan memperindah tubuh tidak sejalan dengan bimbingan wahyu Ilahi yang mengharamkan mentato anggota badan. Bahkan, masyarakat yang menjunjung tinggi norma-norma memandang tato sebagai perbuatan negatif. Tato, identik dengan kehidupan bebas, penjahat, para preman dan kehidupan yang urakan.

Islam sebagai agama yang mengajarkan kesucian dan mencintai keindahan telah mengharamkan tato, bahkan Alloh melaknat orang yang membuat tato dan yang ditato anggota tubuhnya, baik laki-laki maupun perempuan.

al-Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Abdulloh ibn Mas’ud rodhiallohu anhu, beliau berkata: “Alloh  melaknat perempuan-perempuan yang mentato dan yang minta ditato, dan yang  mencabut bulu alis dan yang meminta dicabut bulu alisnya dan yang mengikir gigi untuk memperindah, perempuan-perempuan yang mengubah ciptaan Alloh. Mengapa aku tidak melaknati orang yang dilaknati Rosululloh sholallohu alaihi wasallam  sementara hal itu juga ada dalam Kitabulloh, “Dan apa-apa yang Rosul bawa untuk kalian maka terimalah dan apa-apa yang dilarang kepada kalian maka tinggalkanlah oleh kalian.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits ini terdapat kalimat (الْوَاشِمَاتِ) yang berarti perempuan yang membuatkan tato. Sedangkan objeknya dinamakan (المُوْشُوْمَةُ) yaitu wanita yang ditato. Pembuat tato dan yang ditato sama-sama dilaknat Alloh subhanahu wa ta’ala sebagaimana dalam hadits tersebut. Bahkan menurut Syaikh Muhammad al-Syarif, “Membuat tahi lalat pada wajah dengan celak atau tinta juga dinamakan tato.” (40 Hadits wanita, hlm. 334)

Berdasarkan hadits di atas maka hukum tato dalam Islam diharamkan karena dalam hadits disebutkan kalimat laknat. Seorang ulama besar dari mazhab al-Syafi’i yaitu Imam al-Nawawi rohimahulloh menjelaskan:

Tato hukumnya haram bagi perempuan yang mentato dan yang minta dibuatkan tato. Para ulama mazhab kami (Syafi’i) berkata bahwa bagian tubuh yang ditato berubah menjadi najis. Jika memungkinkan untuk dihilangkan dengan terapi maka tato tersebut wajib dihilangkan. Jika tidak mungkin dihilangkan dengan terapi maka bisa dengan cara dioperasi. Dalam hal ini, lelaki atau perempuan sama saja. (Shohih Muslim Bisyarh al-Imam al-Nawawi, Jilid 14, hlm. 95)

Beliau Imam al-Nawawi rohimahulloh juga menukil keterangan Imam al-Rifa’i rohimahulloh, “Dalam Ta’liq al-Farro’  dinyatakan bahwa tato harus dihilangkan dengan diobati. Jika tidak mungkin dihilangkan kecuali harus dilukai, maka tidak perlu dilukai, dan tidak ada dosa setelah bertaubat.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Jilid 3, hlm. 144)

al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqolani rohimahulloh, setelah menjelaskan bahwa hukum mentato adalah haram, beliau mengatakan: “Adapun bagian tubuh yang ditato berubah menjadi najis karena darah tersumbat di sana. Oleh karena itu, tato diusahakan semaksimal mungkin untuk dihilangkan, meski dengan operasi pembedahan. Kecuali, jika dikhawatirkan organ tubuh akan rusak, cacat, atau tidak berfungsi. Dalam kondisi tersebut, tato boleh tatap dibiarkan. Adapun pelakunya hanya cukup bertaubat untuk menggugurkan dosa.” (Fath al-Bari, Jilid 10, hlm. 457)

Berkaitan dengan hukum sholat bagi orang yang mentato anggota badannya, dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih, dinyatakan, “Tidak diragukan bahwa mentato badan adalah dosa besar, meskipun demikian hal itu tidak ada pengaruhnya dengan keabsahan sholat.” (Fatawa Syabakah Islamiyah, No. 18959 Tanggal 25 Rabi’ul Awwal 1423 H)

Ditinjau dari unsur manfaat, maka mentato anggota tubuh sama sekali tidak memberikan manfaat dunia akhirat. Mayoritas orang-orang yang mentato dirinya tidak lebih dari keinginan memperindah tubuh, gaya hidup, pergaulan dan memuaskan hawa nafsu. Agama Islam yang mencintai keindahan, sama sekali tidak menganjurkan, bahkan justru mengharamkan tato. Terlebih jika tato itu adalah gambar makhluk bernyawa, maka ini adalah keharaman di atas keharaman. Ini menunjukan bahwa perbuatan mentato anggota badan bukanlah perbuatan yang dikategorikan memperindah tubuh dalam pandangan Alloh. Dan seorang muslim hendaknya meninggalkan perbuatan ini karena tidak mendatangkan manfaat sebagai bukti kesempurnaan iman.

al-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairoh rodhiallohu anhu, dia berkata: “Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda, “Di antara baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Dengan demikian, hendaknya seorang muslim meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat untuk dunia dan akheratnya. Mentato anggota badan tidaklah mendatangkan manfaat sedikitpun di dunia terlebih akherat kecuali hanya sekedar kepuasan hawa nafsu. Justru, secara ilmu kedokteran tato merupakan salah satu sebab terjadinya infeksi bakteri lokal di area tubuh yang dibuat tato, reaksi alergi yang ditimbulkan dari bahan pewarna tato, dan penggunaan jarum tato yang tidak steril bisa menjadi sebab penularan HIV dan hepatitis. Wallohu ta’ala a’lam

%d blogger menyukai ini: