Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sahabat yang berbahagia, memberi nafkah keluarga adalah salah satu kewajiban yang paling utama untuk dilakukan oleh para suami. Yakni nafkah untuk anak istrinya, bahkan untuk keluarga dan kerabatnya yang berada di bawah tanggungannya. Bahkan, bukan sekedar kewajiban, memberi nafkah kepada keluarga termasuk salah satu amalan yang utama yang dianjurkan dan mendapatkan pahala yang besar.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori disebutkan.

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

 “Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah dengan tujuan mengharapkan wajah Allah pada hari kiamat nanti, kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala yang besar. sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” [HR.Bukhari].

Sementara itu, ada ayat-ayat al-Qur’an yang menyinggung tentang masalah nafkah terhadap keluarga.

Hal ini sebagaimana firman Allah di dalam quran surat ath-Thalaq ayat 7.

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang telah Allah karuniakan kepadanya.Allah tidaklah memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang telah Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.”

Juga di dalam quran surat al-Baqoroh ayat 233.

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik.”

Sahabat, ada orang yang beranggapan bahwa ketika bersedekah untuk fakir miskin atau yang lainnya, maka mereka merasa bahwa mereka telah berinfak dengan keutamaan yang besar. Sementara ketika mereka mengeluarkan harta untuk menafkahi keluarga, mereka tidak menganggapnya tidak memiliki keutamaan dan bukan termasuk sedekah. padahal memberi nafkah kepada keluarga hukumnya wajib, sementara bersedekah kepada fakir miskin hukumnya sunnah.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah bersabda.

دِيْنَارٌ أنْفَتَهُ في سَبِيْلِ اللهِ وَ دِيْنَارٌ أنْفَتَهُ في رَقَبَةٍ وَ دِيْنَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلىَ مِسْكِيْنٍ وَدِيْنَارٌ أنْفَتَهُ في على أهْلِكَ أعْظَمُهَا أجْرًا الَّذِي أنْفَتَهُ على أهْلِكَ

“Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu, pahala yang paling besar adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu” . [HR. Muslim dan Ahmad]

Juga disebutkan di dalam riwayat lain.

مَا أَطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ زَوْجَتَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Harta yang dikeluarkan sebagai makanan untukmu dinilai sebagai sedekah untukmu.  Begitu pula makanan yang engkau beri pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau beri pada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu, Juga makanan yang engkau beri pada pembantumu,itu juga termasuk sedekah.” [HR. Ahmad]

Jadi, hal yang harus diutamakan adalah menafkahi keluarga sehingga kebutuhan mereka terpenuhi, setelah itu baru berinfak kepada yang lainnya.

Nah sahabat, dari sini kita mesti menyadari bahwa ada prioritas dalam penyaluran harta. Yang utama sekali adalah pada istri dan anak.

Sayangnya, terkadang kita temui ada suami atau ayah yang menelantarkan keluarganya, tidak memberi mereka nafkah atau memberinya tapi tidak maksimal, padahal dia mampu untuk memberi nafkah dengan segala kesanggupan yang dimilikinya.

Sebagai contoh, ada seorang suami yang bisa makan-makan dengan teman-temannya, mentraktir mereka karena ingin terlihat hebat di hadapan teman-temannya, sementara anak dan istrinya tinggal di rumah dengan segala kekurangannya, makan dengan sederhana bahkan kelaparan.

Sahabat, seseorang yang menelantarkan keluarganya, dalam artian tidak memberi nafkah pada keluarganya, maka berarti dia telah berkhianat terhadap amanah yang ditanggungnya, karena keluarga adalah amanah yang harus dipenuhi hak-haknya.

Jika hal ini terjadi, maka kelak orang yang bersangkutan akan ditanya tentang kewajiban yang dia tidak tunaikan untuk keluarganya.

Berkaitan dengan hal ini, ada hadits yang diriwayatkan Dari Anas bin Malik , bahwa Rasulullah -saws-  bersabda.

إِنَّ اللَّهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ

Allah akan bertanya pada setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin.” [HR. Tirmidzi].

Kemudian hadits ini juga diperjelas di dalam hadits yang diriwayatkan dari ibnu Hibban yang artinya.

“Allah akan bertanya pada setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin, apakah ia memperhatikan atau melalaikannya”.

Selain itu sahabat, ada hadits yang menyebutkan keutamaan menafkahi anak perempuan.

Ummu Salamah , istri Nabi ia berkata bahwa Rasulullah bersabda.

مَنْ أَنْفَقَ عَلَى ابْنَتَيْنِ أَوْ أُخْتَيْنِ أَوْ ذَوَاتَىْ قَرَابَةٍ يَحْتَسِبُ النَّفَقَةَ عَلَيْهِمَا حَتَّى يُغْنِيَهُمَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ يَكْفِيَهُمَا كَانَتَا لَهُ سِتْراً مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa mengeluarkan hartanya untuk keperluan kedua anak perempuannya, kedua saudara perempuannya atau kepada dua orang kerabat perempuannya dengan mengharap pahala dari Allah, lalu Allah mencukupi mereka dengan karunianya, maka amalan tersebut akan membentengi dirinya dari neraka.” [HR. Ahmad].

Nah, hadits ini menerangkan keutamaan memberi nafkah kepada anak perempuan. Kenapa ada keistimewaan kepada anak perempuan?. Karena anak-anak perempuan berbeda dengan laki-laki. laki-laki bisa mencari nafkah, sementara anak perempuan tidak, sementara itu secara tabiat anak-anak wanita lebih nyaman tinggal di rumah.

Sahabat hijrah, Satu hal yang juga tidak kalah penting untuk diingat, bahwa suami wajib memberi nafkah dari rizki yang halal. Jangan sekali-kali memberi nafkah dari jalan yang haram, karena setiap daging yang tumbuh dari barang yang haram berhak mendapat siksa api neraka. Sang suami akan dimintai pertanggungan jawaban tentang nafkah yang diberikan kepada keluarganya.

Nah sahabat, sekian pemaparan tentang keutamaan memberi nafkah terhadap keluarga. semoga pemaparan ini bisa menjadi bekal kita sebelum memasuki gerbang pernikahan, atau bisa menjadi renungan dan muhasabah untuk yang sudah menikah, sudahkah kita benar-benar menunaikan kewajiban terhadap keluarga yang berada di bawah tanggungan kita?. Wallahu a’lam

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

%d blogger menyukai ini: