Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sahabat hijrah yang dirahmati Allah , memberi nafkah untuk keluarga adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh para suami atau para ayah, atau bahkan anak laki-laki yang belum menikah yang mampu menafkahi orang tua dan saudara-saudaranya yang miskin.

Akan tetapi sahabat, kewajiban ini tentunya juga memiliki aturan lain yang harus diketahui. Jangan sampai menafkahi keluarga dengan harta yang haram. Karena ini sama persis kita bersedekah dengan memakai harta yang haram. sementara tidak ada sedekah yang lebih baik daripada nafkah kepada keluarga.

Sebelum kita membahas lebih jauh, kita perlu tahu bahwa Allah memerintahkan kita untuk menjemput rezeki dengan cara yang halal.

Allah berfirman di dalam quran surat al-Maidah ayat 88.

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”

Sahabat, Di dalam ayat yang agung ini, Allah memerintahkan kepada kita semua untuk mencari rezeki yang halal. Halal dalam bentuk fisik benda tersebut dan halal dalam cara untuk mendapatkannya.

Selain itu, kita juga harus memahami bahwa mencari rezeki yang halal bernilai ibadah di sisi Allah

Dari Abu Hurairah , Rasulullah bersabda.

لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللَّهُ بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوصَهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ

“Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya, lalu Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu” .

[H.R.Muslim]

Oleh karena itu, supaya nafkah yang diberikan kepada keluarga bernilai pahala yang besar di sisi Allah , maka hendaknya memberikan nafkah keluarga dari harta yang halal. baik halal dzatnya atau cara mendapatkannya.

Sebaliknya, ketika kita mengeluarkan rezeki dari usaha yang haram, maka lelah dan letih kita tersebut tidak akan bermanfaat dan tidak akan diterima di sisi Allah sebagai amalan shaleh.

Selain itu, harta yang dihasilkan dari cara yang haram, kemudian menafkahi keluarga dengan harta haram tersebut, maka tidak akan menghasilkan keberkahan. selain itu, doa orang-orang yang mengkonsumsi harta yang haram juga tidak akan diterima Allah .

Dijelaskan oleh Nabi kita dalam sabdanya.

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا،

“Wahai manusia,  sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali dari apa-apa yang baik.”

وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172]

“Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukmin dengan apa yang telah diperintahkan kepada para rasul. Allah berfirman, ‘wahai para rasul, makanlah kalian dari apa yang baik-baik, dan beramal sholihlah, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian perbuat’. Dan Allah berfirman,‘wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa yang baik-baik, yang telah Kami rezekikan kepada kalian’.”

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

“Kemudian Rasulullah menggambarkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, nampak bekas perjalanan tersebut di sekujur tubuhnya, penuh debu, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berseru ya rabb ya rabb, sedangkan makanannya adalah haram, minumannya adalah haram, dan pakaiannya adalah haram, dia tumbuh dari sesuatu yang haram,maka bagaimana mungkin doanya akan dijawab?.”

[H,R. Muslim.]

Sahabat hijrah, Hadits ini merupakan salah satu pilar agama Islam dan tonggak dari hukum-hukum Islam. Ada 40 hadits yang menjadi bagian tak terpisahkan dari hadits ini. Di dalam hadits ini ada perintah kepada kaum muslim untuk berinfak dengan yang rezeki halal, serta larangan untuk berinfak dengan rezeki yang haram.

Hadits ini juga menerangkan,bahwa minuman, makanan,pakaian, dan lain-lain harus halal dan terjauh dari syubhat. dan siapa saja yang hendak berdoa hendaknya ia memenuhi syarat-syarat tersebut, yakni   menjauhi minuman, makanan, dan pakaian yang haram,”

Dari hadits ini kita juga bisa menyimpulkan bahwa seseorang tidak boleh memberi nafkah keluarganya dengan nafkah yang haram. Sebaliknya, seorang muslim dilarang menerima dan mengkonsumsi sesuatu yang diharamkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Atas dasar itu, seorang anak yang sudah akil baligh mesti menolak nafkah dari orang tua jika ia tahu bahwa nafkah tersebut berasal dari jalan yang haram, misalnya hasil hutang yang mengandung riba. Begitu juga dengan istri, harus memperingatkan suami jika suaminya berinteraksi  atau berbisnis dengan cara haram.

Sebab sahabat,  keberkahan hidup seseorang sangat tergantung dari makanan yang dimakannya.  Namun jika ia tidak tahu bahwa nafkah yang diberikan orang tua atau suaminya tersebut berasal dari usaha haram, maka hukumnya dimaafkan.

Pada dasarnya, orang tua tidak boleh melibatkan diri dengan riba dengan alasan, kalau tidak pinjam di bank maka pendidikan anaknya akan ketinggalan, dan sebagainya. Jika ia tidak mampu menyekolahkan anaknya di pendidikan-pendidikan formal, ia bisa menempuh jalan lain dengan cara menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah yang murah dengan kualitas yang tidak rendah. Bisa juga ia mendidik anaknya untuk mandiri sejak kecil, hingga anak bisa menafkahi dirinya sendiri, dan berfikir secara mandiri. Masih banyak jalan yang bisa dilakukan agar anak tidak ketinggalan dalam pendidikannya. Yang jelas, orang tua atau para suami tidak boleh menceburkan atau melibatkan dirinya dalam perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh syariat Islam.

Bahkan sahabat, daging yang tumbuh dari barang yang haram terancam oleh siksa api neraka dan tidak bisa masuk surga.

Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la disebutkan.

لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ جَسَدٌ غُذِيَ بِالْحَرَامِ

“Tidak akan masuk surga tubuh yang diberikan makan dari sesuatu yang haram.”

Di dalam hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Imam athh-Thabrani disebutkan.

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ.

“Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka Neraka lebih pantas baginya.”

Nah sahabat, hal ini tentunya harus jadi perhatian buat para ayah atau para suami. agar jangan sampai memberi makan keluarganya dari harta yang haram. Tega nian jika kepala keluarga memberi makan keluarganya dari hasil yang haram yang akan menjerumuskan pada kesengsaraan. Membahagiakan istri dan anak bukanlah dengan cara memanjakan mereka dan memenuhi semua kebutuhan mereka namun dengan cara-cara yang haram.

Akhir kalam, semoga kita terhindar dari keburukan harta yang haram, dan selalu menjaga diri darinya.

Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

%d blogger menyukai ini: