Sahabat hijrah yang dirahmati Allah. Pernahkah sahabat menangis karena Allah?, Menangisi dosa-dosa kita?, Menangisi kelemahan kita di hadapan Allah?, Kita tidak bisa tiba-tiba menangis karena Allah begitu saja, kita tidak bisa merencanakan tangisan tersebut, kita tidak bisa menangis sesuai keinginan kita. Akan tetapi tangisan ini, timbul karena takut kepada Allah, bergetar hatinya karena nama Allah disebut dan berguncang jiwanya ketika mengingat maksiat dan dosa yang pernah dilakukan, oleh karena itu inilah tangisan keimanan, tangisan kebahagiaan dan tangisan yang timbul dari bersihnya jiwa.

Bahkan nih sahabat, menangis karena Allah subhanahu wata’ala termasuk karakter orang-orang beriman, hal ini sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala firmankan di dalam quran surat al-Anfal ayat 2.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.

Sahabat hijrah, menangis karena Allah subhanahu wata’ala itu bisa bermacam-macam sebabnya, menangis karena Allah bisa berarti menangis karena menyesal telah berbuat dosa, mengingat dosa, menangis karena tidak bisa berbuat banyak ketika saudara seiman menderita, menangis karena tidak mampu beribadah dengan baik, menangis karena kehilangan kesempatan baik, menangis mengingat semua nikmat yang telah Allah subhanahu wata’ala berikan dan banyak lagi.

Salah satu tangisan karena Allah subhanahu wata’ala adalah menangis karena mengingat nasib kita di akhirat kelak. hal ini sebagaimana Utsman bin Affan radiyallahu anhu menangis ketika berada di suatu kuburan, sampai-sampai jenggotnya basah oleh air mata.

Kemudian dikatakan kepadanya. “ketika disebutkan surga dan neraka engkau tidak menangis, tetapi kenapa engkau menangis karena ini.?”

Kemudian Utsman bin Affan radiyallahu anhu berkata. “sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “sesungguhnya kubur adalah tempat persinggahan pertama dari beberapa persingggahan di akhirat, jika ia selamat maka ia dimudahkan, jika tidak selamat di sini maka tidaklah datang setelahnya kecuali sesuatu lebih berat lagi. hadits riwayat Imam Tirmidzi.

Sahabat hijrah, Bagaimana kita bisa bangga menisbatkan diri sebagai muslim yang beriman, tetapi kita tidak pernah merasa takut kepada Allah, air mata mengering, seolah-olah merasa aman dengan maksiat dan dosa yang telah  dilakukan.

Padahal, hendaknya setiap muslim itu merasa khawatir dengan dosa-dosanya, sebagaimana yang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sabdakan.

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ » . فَقَالَ بِهِ هَكَذَ

Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, dia mengusirnya dengan tangannya, begini,  maka lalat itu terbang. hadits riwayat Timidzi.

Ulama salaf terdahulu juga banyak menangis karena ingat kepada Allah subhanahu wata’ala, ada yang menangis ketika dibacakan ayat-ayat al-quran, ada juga yang menangis ketika menyampaikan khutbah atau ketika membaca ayat al-quran di dalam shalatnya, ada yang menangis ketika berzikir, ada yang menangis karena ingat akan siksa neraka dan merasa khawatir dirinya masuk neraka, dan banyak lagi contohnya.

Sahabat hijrah, mungkin ketika kita mendengar kata tangisan, maka kita menyandingkannya dengan kesedihan atau kesengsaraan juga penderitaan. Tapi berbeda dengan tangisan karena Allah, tangisan karena Allah adalah tangisan yang membawa pada kebahagiaan. Tentunya seseorang bahagia ketika dia bisa menangis karena Allah subhanahu wata’ala. karena Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya.

Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu yang telah diperah bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.

Hadits riwayat tirmidzi.

Kemudian juga disebutkan di dalam hadits yang lain, bahwa salah satu golongan yang dinaungi Allah di padang mahsyar kelak adalah seseorang yang menangis ketika mengingat Allah.

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ في ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إلا ظلُّهُ ….، ورَجُلٌ ذَكَرَ اللَّه خالِياً فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. diantaranya seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata.

Kemudian di dalam hadits yang lain disebutkan, yang artinya.

Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka, mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam jihad di jalan Allah. hadits riwayat Tirmidzi.

Sahabat hijrah, perlu juga diperhatikan bahwa menangis karena Allah subhanahu wata’ala itu bukan menangis yang dibuat-buat, menangis karena terharu dan sebagainya, karena setiap orang pada hakikatnya bisa menangis dan karena menangis juga fitrah manusia.

Dan bukan juga menangis ramai-ramai sebagaimana acara muhasabah bersama yang direncanakan acaranya, berkumpul bersama berdzikir kemudian menangis beramai-ramai. Karena bisa jadi tangisannya karena suasana, menangis karena terbawa suasana di sekitarnya, apalagi acaranya diiringi dengan lagu dan musik yang sendu.

Sahabat hijrah, ada yang lebih parah dari itu, apa itu?. yakni ketika kita lebih mudah menangis ketika melihat film atau drama, sementara kita tidak pernah menangis karena Allah subhanahu wata’ala.

Ketika ayat Al-Quran dibacakan atau ketika membaca perjuangan para Nabi dan Sahabat membela Islam kita sulit menangis dan tersentuh. akan tetapi ketika menonton film dan ketika membaca cerita fiktif kita menangis tersedu-sedu.

Akan tetapi sahabat, seorang muslim tidak boleh menampakkan kesedihan dan tangisannya di depan orang lain, harusnya Seorang muslim ketika menyendiri ia berlinang air mata dan ketika bertemu dengan manusia berwajah gembira dan ceria.

Karena sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Janganlah engkau remehkan suatu kebajikan sedikitpun, walaupun hanya dengan engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang ceria.

Bahkan sahabat, para salafus shalih mereka berusaha menyembunyikan tangisan mereka dari manusia agar lebih ikhlas dalam ibadah, contohnya ada yang pura-pura sedang pilek ketika menangis. dia mengatakan saya sedang pilek, padahal baru saja menangis.

Baiklah sahabat hijrah, cukup sampai di sini pemaparan tentang tangisan karena Allah subhanahu wata’ala, semoga dengan pemaparan ini bisa memperlembut hati kita, sehingga kita selalu berusaha untuk selalu dekat dengan Allah subhanahu wata’ala.

Wallahu a’lam.

Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

 

%d blogger menyukai ini: