Sahabat yang budiman dimana saja saat ini anda berada, Ketika kaum musyrikin Quraisy gagal dalam setiap tipu muslihat mereka untuk memulangkan kaum Muhajirin, mereka pun semakin bertambah geram. Kemarahan mereka bervariasi antara satu dan yang lainnya, bahkan Semakin lama semakin memuncak dan mereka timpakan juga kepada kaum muslimin yang lainnya. Bukan hanya itu, mereka juga sudah mulai menjangkaukan tangan jahat mereka kepada untuk menyakiti beliau .  Bahkan kali ini, Tampak dari gerak-gerik mereka hal yang menunjukkan adanya keinginan untuk menghabisi Rasulullah sehingga mereka dapat menumpas habis Islam hingga ke akar-akarnya yang selama ini menggetarkan tempat tidur mereka.

Sementara kaum Muslimin sendiri, sebagian mereka masih tinggal di Mekkah meskipun dalam jumlah yang sedikit. Mereka dapat melakukan hal itu baik lantaran ada diantara mereka yang memang termasuk orang-orang terpandang dan memiliki kekuatan atau mendapatkan perlindungan dari seseorang. Meskipun demikian, mereka tetap menyembunyikan keislaman mereka dan menjauh dari pandangan para Thoghut (para pemimpin kafir Quraisy) sebisa mungkin. Akan tetapi, sekalipun kehati-hatian dan kewaspadaan itu dilakukan, mereka sama sekali tidak bisa lolos begitu saja dari gangguan, penghinaan serta penganiayaan Kafir Quraisy.

Sahabat yang budiman, ditengah-tengah situasi genting tersebut, tetap melakukan shalat dan beribadah kepada Allah didepan mata kepala para pemimpin kekafiran tersebut. Beliau masih leluasa berdoa baik secara pelan atau terang-terangan. Tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi dan memalingkan beliau dari hal itu, sebab semua itu dilakukan dalam rangka menyampaikan risalah Allah semenjak beliau diperintahkan oleh Alloh ta’alaa, dalam firmanNya:

“Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (QS. 15/Al-Hijr: 94).

Sahabat yang budiman, Dengan ketegasan dan perjuangan beliau yang sangat berani , sebenarnya sewaktu-waktu, bisa saja kaum Musyrikun menyakiti beliau bila mereka mau. Sebab secara zhahirnya tidak ada yang menghalangi mereka untuk mengganggu Rosululloh selain rasa malu dan segan serta adanya jaminan dan rasa hormat mereka kepada paman beliau , Abu Thalib. Sebab lainnya, mereka tidak menyiksa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasalla, adalah karena kekhawatiran mereka terhadap akibat yang fatal dari tindakan tersebut sehingga akan membuat suku Bani Hasyim berhimpun melawan mereka.

Namun, lambat laun perasaan tersebut pupus dan tidak berpengaruh banyak terhadap physikologis mereka. Karenanya mereka mulai menganggap remeh akan hal itu semenjak mereka merasa eksistensi berhala dan kepimpinan spritual yang selama ini mereka pegang sudah semakin

memudar, kalah saing oleh dakwah Muhammad .

Sahabat yang budiman, Diantara peristiwa-peristiwa yang dikisahkan oleh kitab-kitab Hadits dan Sirah kepada kita serta didukung oleh bukti-bukti otentik bahwa memang terjadi pada masa tersebut adalah kisah ‘Utaibah bin Abi Lahab yang mendatangi Rasululullah pada suatu hari sembari berkata:”aku mengingkari firman Allah, (yang berbunyi)

Demi bintang ketika terbenam.” (QS. An-Najm[53]: 1)]

dan yang (disebutkan sebagai)

Kemudian dia (Jibril) mendekat, lalu bertambah dekat lagi,” (QS. 53:8)] “.

Selepas itu, dia menyakiti beliau , merobek bajunya serta meludah ke arah wajah beliau namun untung saja tidak mengenainya. Ketika itu Nabi mendoakan (kebinasaan) atasnya, beliau berdo’a,  “Ya Allah, kirimkanlah kepadanya seekor anjing dari anjing-anjing (ciptaanMu) untuk (menerkam)-nya“. Kemudian Doa beliau ini telah diijabah oleh Allah, yaitu manakala suatu hari ‘Utaibah keluar bersama beberapa orang Quraisy dan singgah di suatu tempat di Syam yang bernama az-Zarqâ’. Pada malam itu, ada banyak singa yang berkeliaran

disitu. Melihat hal itu, ‘Utaibah serta merta berteriak: “wahai saudaraku, sungguh celaka! Inilah, demi Allah, pemangsaku sebagaimana yang didoakan oleh Muhammad atasku. Dia membunuhku padahal sedang berada di Mekkah sedangkan aku di Syam“. Lalu singa itu menerkamnya di tengah

kerumunan kaum tersebut, mencengkram kepalanya dan membunuhnya.

Selanjutnya Sahabat, Kisah lainnya, disebutkan bahwa ‘Uqbah bin Abi Mu’ith menginjak pundak

beliau yang mulia saat beliau sedang sujud sehingga hampir-hampir kedua mata beliau terluka. Seentara itu, Diantara bukti lain yang menunjukkan bahwa para Thughat tersebut ingin membunuh beliau adalah kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Âsh , dia berkata:

“Aku datang saat mereka (kafir Quraisy) berkumpul-kumpul di hijr (yakni, Hijr Isma’il di Ka’bah), mereka menyebut-nyebut perihal Rasulullah . Mereka berkata: ‘Kita tidak pernah bisa menahan kesabaran seperti halnya kita sabar terhadap orang ini (Rasulullah-red), padahal, kita telah menahan sabar terhadapnya dalam masalah yang serius’. Manakala mereka dalam kondisi demikian, muncullah Rasulullah menuju ke sana dengan berjalan, lalu beliau menghampiri ar-Rukn (al-Yamaniy, salah satu sudut Ka’bah-red), kemudian beliau melewati mereka dan mengelilingi Baitullah. Mereka menghina beliau dengan beberapa ucapan, maka aku mengetahui hal itu dari raut wajah Rasulullah .

Ketika beliau melewati mereka untuk kedua kalinya, mereka tetap melakukan hal yang sama terhadapnya dan aku mengetahuinya juga dari raut wajah beliau , kemudian beliau melewati mereka untuk ketiga kalinya dan mereka masih melakukan hal yang sama terhadapnya, lalu beliau berhenti dan berkata kepada mereka, ‘maukah kalian mendengarkan (ini) wahai kaum Quraisy! Demi Yang jiwaku ada di tanganNya, sungguh aku datang membawakan sembelihan untuk kalian“.

Ucapan beliau ini berhasil mengalihkan konsentrasi mereka sehingga tidak seorangpun dari mereka melainkan seakan-akan ada burung yang bertengger diatas kepalanya (memperhatikan beliau ). Bahkan orang yang paling kasar diantara mereka, memberikan ucapan selamat kepada beliau dengan sebaik-baik ucapan yang pernah beliau dapatkan dari mereka. Orang itu berkata, ‘pergilah wahai Abu al-Qâsim (kunyah Rosul -saws-) ! Demi Allah! engkau bukanlah orang yang bodoh‘.

Pada keesokan harinya, mereka berkumpul kembali dan memperbincangkan perihal beliau , ketika beliau muncul, mereka secara serentak merubung dan mengitari beliau . Aku melihat salah seorang diantara mereka memegang jubah beliau , lantas Abu Bakar dengan segera membela beliau , Sambil menangis, Abu Bakar berkata, ‘apakah kalian akan membunuh seseorang lantaran dia berucap:’Rabb-ku adalah Allah?‘. Kemudian mereka pun pergi. Mengenai kejadian ini, perowi (Abdulloh Ibnu ‘Amru ibnu al-‘Ash ) berkata: ‘sungguh pemandangan itu merupakan perlakuan paling kasar yang pernah kulihat dilakukan oleh kaum Quraisy terhadap beliau “. Demikianlah ringkasan kisahnya.

Sedangkan Sahabat yang budiman, Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari ‘Urwah bin az-Zubair , dia berkata, “aku bertanya kepada Ibnu ‘Amru bin al-‘Âsh, ‘beritahukanlah kepadaku tentang perlakuan yang paling keras yang dilakukan oleh kaum Musyrikun terhadap Nabi !’. Dia menjawab: ‘ saat Nabi sedang shalat di hijr Ka’bah, datanglah ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, lalu dia melilitkan pakaiannya ke leher beliau dan menariknya dengan kencang. Kemudian, Abu Bakar datang dan mencangkram pundaknya lalu mengenyahkannya dari sisi Nabi , sambil berkata, ‘apakah kalian akan membunuh seseorang lantaran dia mengatakan: ‘Rabb-ku adalah Allah?‘ “.

Demikianlah Sahabat yang budiman dimana saja saat ini anda berada, sikap kaum kafir Quraisy kepada Rosululloh yang kian hari kian lancing, hingga mereka menyakiti tubuh Rosululloh dan hendak membunuh beliau . lantas bagaimanakan sikap Nabi menghadapi situasi seperti ini? Kita akan simak kelanjutan sejarahnya masih dalam rubric Siroh Nabawiyah pada edisi yang akan datang insyaAlloh. Wallohu a’lam.

%d blogger menyukai ini: