Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran atau LPMQ Kementerian Agama melibatkan semua pihak dalam acara kegiatan Ijtima’ Ulama Alquran yang digelar di Bandung, termasuk dari kalangan disabilitas. Bahkan, kalangan disabilitas tunanetra yang menjadi peserta dalam acara ini turut bertanya dan memberikan kontribusi pemikirannya.

Seorang tunanetra bernama Yayat Rukhiyat tampak bertanya kepada ketiga narasumber yang hadir. Ia juga menyampaikan aspresiasinya kepada LPMQ yang selama ini telah memberikan perhatiannya kepada para disabiltias untuk mengetahui ajaran Alquran.

Menurut Yayat, secara pribadi dirinya memang tidak menguasai tentang proses penerjemahan Alquran, tetapi dia hadir ke acara itu sebagai praktisi dan pengguna Alquran braile. Karena, selama ini Yayat juga ikut terlibat dalam penyusunan Alquran braile dan memberikan pembinaan kepada para tunanetra agar bisa membaca Alquran braille.

Ia mengatakan, dalam terjemahan Alquran yang ada selama ini masih menggunakan bahasa buta yang bisa membuat para tunanetra tersakiti. Karena itu, dalam pembahasan revisi terjemahan Alquran kali ini Yayat juga memberikan masukan agar kata buta diganti dengan kata tunanetra dengan tanpa mengubah makna aslinya.

Kepala LPMQ Mukhlis Hanafi mengatakan, sejak awal pihaknya memang meminta masukan dari seluruh lapisan masyarakat. Menurut dia, hal itu penting agar bisa membuat terjemahan Alquran yang ramah. (republika/admin)

%d blogger menyukai ini: