Empat minggu setelah pembantaian sadis di dua masjid Selandia Baru, komunitas Muslim Christchurch berjuang untuk mengembalikan suasana tenang di tengah ketakutan mereka untuk kembali shalat Jumat. Imam Masjid Linwood, Ibrahim Abdel halim mengatakan kepada media bahwa jamaah yang hadir hanya 30 orang. Padahal sebelumnya bisa mencapai 100 orang.

Komunitas Muslim semakin terguncang minggu ini, ketika seorang pria berusia 33 tahun, mengenakan t-shirt bertuliskan nama Presiden Amerika serikat “Donald Tramp”, meneriaki jamaah di masjid al-Nur.

Abdel halim mengatakan banyak Muslim yang ingin kembali ke masjid namun masih mengalami trauma. Sebulan setelah pembantaian, polisi Selandia Baru telah mengeluarkan pernyataan bahwa tingkat ancaman nasional tetap tinggi.

Setelah penembakan, Selandia Baru telah memperketat undang-undang peraturan senjata api, mengeluarkan senjata semi-otomatis dari peredaran melalui skema pembelian kembali, larangan dan hukuman penjara yang keras. (kiblat/admin).

%d blogger menyukai ini: