Sri Lanka mengumumkan larangan penggunaan cadar seminggu setelah serangan kekerasan yang merenggut 253 nyawa di negara itu minggu lalu. Pengumuman itu dibuat di bawah perintah darurat yang diumumkan di negara itu hari Senin kemarin, tanpa secara spesifik menyebut burka atau niqab.

Kantor Maithripala Sirisena mengatakan pakaian atau barang apa pun yang menghalangi identifikasi wajah seseorang akan dilarang. Langkah ini mengikuti diskusi kabinet baru-baru ini tentang penutup wajah. Pemerintah telah mengatakan akan menunda keputusan sampai pembicaraan dengan ulama Islam dapat diadakan, atas saran perdana menteri Ranil Wickremesinghe.

Sepekan setelah serangan pada Minggu Paskah, gereja-gereja Katolik di negara itu tetap ditutup karena kekhawatiran keamanan.

Sirisena dan Wickremesinghe menghadiri Misa yang disiarkan televisi di kediaman Kardinal Malcolm Ranjith, uskup agung Kolombo.

All Ceylon Jamiyyathul Ulama, Organisasi ulama di Sri Lanka, mendukung larangan cadar hanya dalam jangka pendek dengan alasan keamanan. Hal ini sebagaimana diungkapkan Farhan Faris, asisten manajer All Ceylon Jamiyyathul Ulama  setelah para ulama meminta pemerintah meniadakan rencana membuat larangan itu dalam bentuk undang-undang. (hidayatullah/admin).

%d blogger menyukai ini: