Tarbiyatul Aulad – Pada tulisan sebelumnya (Tanggung Jawab pendidikan bagian 1) sudah dijelaskan mengenai tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak-anaknya menjadi anak yang ta’at kepada Alloh , dan juga menjadi anak yang membanggakan bagi kedua orang tuanya kelak.

Hazm mengatakan, “Saya mendengar al-Hasan al-Bashri ditanya oleh Katsir bin Ziyad mengenai Firman Alloh ,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Robb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. Qur’an Surat Al Furqan ayat 74.

Katsir bin Ziyad bertanya kepada al-Hasan, “Wahai Abu Sa’id, apakah yang dimaksud qurrata a’yun, penyenang hati dalam ayat ini terjadi di dunia ataukah di akhirat?. Maka al-Hasan pun menjawab, “Tidak, bahkan hal itu terjadi di dunia”. Katsir pun bertanya kembali, “Bagaimana bisa?”.

al-Hasan menjawab, “Demi Alloh, Alloh akan memperlihatkan kepada seorang hamba, istri, saudara dan teman yang taat kepada Alloh, dan demi Alloh tidak ada yang menyenangkan hati seorang muslim selain dirinya melihat anak, orang tua, teman dan saudara yang tumbuh dalam ketaatan kepada Alloh ”.

Betapa indahnya, jika kita memandang anak-anak kita menjadi anak yang shalih, karena hal itu salah satu penyejuk pandangan kita. Namun yang patut kita perhatikan adalah faktor yang juga mengambil peran penting dalam pembentukan keshalehan anak adalah keshalihan orang tua itu sendiri. Jika kita menginginkan anak-anak shalih, maka kita juga harus menjadi orang yang shalih. Ada pepatah Arab yang bagus mengenai hal ini, yang berbunyi,

“Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara bendanya bengkok?”.

Kita selaku orang tua adalah bendanya, sedangkan anak-anak kita adalah bayangannya. Jika diri kita bengkok, maka anak pun akan bengkok dan rusak. Dan sebaliknya, jika diri kita lurus, maka insya Alloh anak-anak kita akan lurus.

Alloh  berfirman,

Artinya,  “Keturunan itu sebagiannya merupakan turunan dari yang lain…”. Qur’an Surat Ali Imran ayat 34.

Maksud dari ayat ini adalah orang tua yang baik, sumber yang baik, insya Alloh akan menghasilkan keturunan yang baik pula.

Keshalihan orang tua juga akan memberikan manfaat positif, karena Alloh Ta’ala akan menjaga sang anak sampai dewasanya.

Alloh  berfirman,

Artinya, “Adapun dinding rumah itu  adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh…”. Qur’an Surat Al Kahfi ayat 82.

Dalam ayat ini diberitakan, bahwa dikarenakan keshalihan orang tua, Alloh menjaga dan memelihara sang anak, serta tidak mengecewakan orang tua. Oleh karenanya, keshalihan orang tua itu akan berpengaruh pada sang anak,

bahkan manfaat itu tidak terbatas pada sang anak semata, tapi juga berdampak kepada cucu-cucunya, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir rohimahulloh bahwa yang dimaksud ”sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh” dalam ayat yang telah di bacakan tadi adalah kakek ketujuh dari dua anak tadi.

Dan kelak di surga, Alloh  pun akan mengumpulkan sang anak bersama orang tua mereka yang shalih, meskipun amalan sang anak tidak sebanding dengan amalan orang tuanya. Sebagaimana Firman Alloh  di dalam Qur’an Surat Ath-Thur ayat yang ke-21, yang artinya,

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”.

Maka di sini Alloh  memasukkan anak-anak orang mukmin ke dalam surga dengan syarat mereka juga beriman. Maka, betapa menyenangkannya, jika kita berkumpul bersama keluarga kita di surga sebagaimana kita berkumpul di dunia ini. Meskipun amal ibadah sang anak tidak sepadan dengan kedua orang tuanya, amalnya kurang daripada orang tuanya, namun Alloh  tetap memasukkan keturunannya ke dalam surga. Karena apa?, karena keshalehan kedua orang tuanya.

Betapa pentingnya hal ini, yaitu menjadikan pribadi kita, yaitu orang tua, menjadi pribadi yang shalih, sampai-sampai salah seorang yang shalih pernah mengatakan,

“Wahai anakku, sesungguhnya aku memperbanyak shalat karenamu, dengan harapan Alloh  akan menjagamu.”

Ada seorang tabi’in yang bernama Sa’id ibn al-Musayyib rohimahulloh juga pernah berkata,

“Ada kalanya ketika aku sholat, aku teringat akan anakku, maka aku pun menambah sholatku, agar anak-anakku dijaga oleh Alloh Ta’ala”.

Maka, mari kita menjadikan diri kita sebagai pribadi yang baik, taat kepada Alloh  dan shalih, kita jalankan perintah-perintah Alloh  dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, dengan harapan nantinya Alloh  menjaga dan memelihara anak-anak kita.

Demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, mudah-mudahan kita mendapatkan pelajaran dan hikmahnya, terlebih kita bisa mengamalkannya di dalam mendidik anak-anak kita sehari-hari. Wallohu a’lam. (redaksi/admin)