Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh,

Sahabat yang budiman, Sesungguhnya, termasuk yang penting bagi seorang pencari kebenaran, sebelum mempelajari sisi-sisi tauhid yang rinci dan mendetail dari Asma’ dan Sifat, hendaklah ia mengerti pentingnya tauhid ini, kedudukan dan peranannya secara khusus.

Urgensi yang Pertama: Tauhid Asma’ Wa Sifat Adalah Separuh Dari Bab Iman Kepada Alloh

Bagi seorang muslim, sungguh sangat jelas pentingnya iman kepada Alloh . Karena, rukun tersebut merupakan rukun iman pertama, bahkan terbesar. Rukun-rukun selainnya mengikut kepadanya dan cabang dari padanya. Itulah tujuan diciptakan makhluk, diturunkan kitab-kitab, diutus dan rosul-rosul, serta agama ini dibangun di atasnya. Jadi, iman kepada Alloh  merupakan asas segala kebajikan dan sumber hidayah serta sebab segala kebahagiaan.

Seorang hamba tidak akan mendapat kebaikan dan tidak pula kebahagiaan, kecuali dengan mengenal Robb-nya dan beribadah kepadaNya. Bila ia melakukan yang demikian itu, maka itulah puncak yang dikehendakiNya, yaitu untukNya ia diciptakan. Adapun selain itu, mungkin suatu yang utama dan bermanfaat, atau keutamaan yang tidak ada manfaatnya, atau suatu tambahan yang membahayakan. Oleh karena itulah, dakwah para rosul kepada ummatnya adalah menyeru untuk beriman kepada Alloh dan beribadah kepadaNya. Setiap rosul memulai dakwahnya dari hal itu, sebagaimana dapat diketahui dari sejarah dakwah para rosul yang diterangkan dalam Al Qur’an.

Untuk memiliki kebahagiaan dan keselamatan serta keberuntungan, yaitu dengan merealisasikan tauhid yang dibangun di atas keimanan kepada Alloh . Dan untuk mewujudkan keduanya, maka Alloh mengutus utusanNya. Itulah yang didakwahkan para rosul, dari yang pertama yaitu Nuh hingga yang terakhir Muhammad  .

Pertama : Yaitu tauhid ‘ilmi khobari al i’tiqadi. Meliputi penetapan sifat-sifat kesempurnaan Alloh dan menyucikanNya dari segala penyerupaan dan penyamaan, serta mensucikan dari sifat-sifat tercela.

Kedua : Yaitu beribadah kepadaNya saja, tidak menyekutukanNya dan memurnikan kecintaan kepadaNya, serta mengikhlaskan kepadaNya perasaan khouf, raja’, tawakal kepadaNya dan ridho terhadapNya sebagai Robb, ilah dan wali. Tidak menjadikan untukNya tandingan dalam perkara apapun.

Alloh telah mengumpulkan kedua jenis tauhid ini dalam surat Al Ikhlas dan Al Kafirun. Surat Al Kafirun mencakup ilmi khobari iradi dan surat Al Ikhlash juga mencakup tauhid ilmi khabari.

Di dalam surat Al Ikhlash terdapat keterangan yang wajib dimiliki Alloh , yaitu berupa sifat-sifat sempurna. Juga menegaskan apa-apa yang wajib disucikan dariNya, yaitu berupa sifat-sifat tercela dan penyerupaan. Adapun surat Al Kafirun, menerangkan wajibnya beribadah hanya kepadaNya, tidak menyekutukanNya dan berlepas diri dari segala peribadatan kepada selainNya.

 

Salah satu dari dua tauhid tersebut tidak akan terjadi, kecuali bila disertai tauhid yang satunya lagi. Oleh karena itu, Nabi sering membaca dua surat ini dalam shalat sunnah Fajar, Maghrib dan Witir. Karena kedua kedua surat itu merupakan pembuka amal dan penutup amal. Sehingga permulaan siang harinya dimulai dengan tauhid dan ditutup dengan tauhid.

 

Jadi, separuh atau sebagian tauhid yang dituntut dari seorang hamba, dan separuhnya adalah tauhid Asma’ wa Sifat.

 

 

Selanjutnya Urgensi Yang Kedua: Tauhid Asma’ Dan Sifat Adalah Ilmu Yang Paling Mulia Dan Paling Penting.

Mulianya suatu ilmu, tergantung pada isi ilmu itu sendiri, karena tingkat kepercayan seseorang pada dalil-dalil serta bukti-bukti tentang adanya. Disamping isi ilmu itu amat perlu difahami dan sangat besar manfaatnya bila difahami.

Tidak diragukan, bahwa sesuatu yang paling agung, paling mulia dan paling besar untuk diketahui adalah tentang Alloh . Dzat yang tidak ada sesuatupun berhak diibadahi kecuali Dia, Robb alam semesta, Pemelihara langit, Maha Raja Yang Haq, yang disifati dengan semua sifat sempurna. Dzat yang Maha Suci dari segala kekurangan dan cela, Maha Suci dari keserupaan serta kesamaan dalam kesempurnaanNya. Maka tidak diragukan bahwa mengilmui nama-nama dan sifat-sifat serta perbuatan-perbuatanNya merupakan pengetahuan paling agung dan paling utama.

Bila dikatakan bahwa ilmu adalah sarana bagi amal, ia dimaksudkan untuk diamalkan, dan amal adalah tujuan ilmu. Padahal telah diketahui, tujuan lebih utama dari sarana. Dengan demikian, bagaimana sarana lebih diutamakan daripada tujuannya?

Perlu dijawab, masing-masing ilmu maupun amal dibagi menjadi dua. Diantaranya ada yang menjadi sarana atau wasilah dan diantaranya ada yang menjadi tujuan atau ghoyah. Jadi, tidak seluruh ilmu adalah sarana untuk mendapatkan yang lainnya. Karena sesungguhnya ilmu tentang Alloh , nama-nama dan sifat-sifatNya adalah ilmu yang paling mulia secara mutlak. Jadi ilmu ini adalah ilmu yang dituntut dan kehendaki itu sendiri. Alloh -az-  berfirman dalam surat Ath Tholaq : 12.

اللهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ اْلأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ اْلأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًا

 

Alloh yang telah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi semisalnya. PerintahNya berlaku padanya. Agar kamu mengetahui, bahwa Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Alloh , ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu.

 

 

Alloh telah mengabarkan, bahwa Dia menciptakan langit dan bumi, dan memberlakukan perintahNya kepadanya, supaya hamba-hambaNya mengetahui bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Jadi, ilmu ini sebagai puncak atau tujuan penciptaan yang dituntut untuk diketahui. Alloh berfirman dalam surat Muhammad ayat 19:

             فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلاَّاللهُ

             “Ketahuilah, bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Alloh.”

Sahabat yang budiman. Jadi, mengilmui ke-Maha-Esaan Alloh menjadi keharusan, dan tidak cukup dengan itu saja, tetapi harus disertai dengan beribadah kepadaNya semata, tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Keduanya adalah dua perkara yang dituntut. Pertama, untuk mengenal Alloh dengan namanama, sifat-sifat, perbuatanperbuatan dan hukumhukumnya. Kedua, untuk beribadah sebagai konsekwensi dan kewajibannya.

 

Mengilmui ke-Maha Esaan Alloh menjadi keharuasan, dan tidak cukup dengan itu saja, tetapi harus disertai dengan beribadah kepadaNya semata, tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Keduanya adalah dua perkara yang dituntut. Pertama, untuk mengenal Alloh dengan nama-nama, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan dan hukum-hukumnya. Kedua, untuk beribadah sebagai konsekwensi dan kewajibannya.

 

Jadi seperti halnya beribadah kepadaNya itu dituntut dan dikehendaki, demikian pula mengilmui tentangNya, karena sesungguhnya ilmu termasuk seutama-utama ibadah.

Demikian,  wallohu ta’ala a’lam,

Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

%d blogger menyukai ini: