Tarbiyatul Aulad – Sahabat yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan kali ini, kita akan kembali melanjutkan pembahasan mengenai “Agar buah hati menjadi penyejuk hati”.

Cinta yang sejati kepada anak tidaklah diwujudkan hanya dengan mencukupi kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup mereka. Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu adalah pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya, karena diwujudkan dengan sesuatu yang bermanfaat dan kekal di dunia dan di akhirat nanti.

Alloh Subhanahu wa Ta’alaa memuji NabiNya Ya’qub ‘alaihissalam yang sangat mengutamakan pembinaan iman bagi anak-anaknya, sehingga pada saat-saat terakhir dari hidup beliau, nasehat inilah yang beliau tekankan kepada anak-anaknya. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Artinya “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan tanda-tanda kematian, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?. Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Robb-mu dan Robb nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Robb Yang Maha Esa, dan kami hanya tunduk kepada-Nya”. (QS. Al-Baqoroh : 133)

Renungkanlah teladan agung dari Nabi Alloh yang mulia ini, bagaimana beliau menyampaikan nasehat terakhir kepada anak-anaknya untuk berpegang teguh dengan agama Alloh ‘Azza wa Jalla, yang landasannya adalah ibadah kepada Alloh ‘Azza wa Jalla semata-semata dan menjauhi perbuatan syirik atau menyekutukanNya dengan makhluk.

Dimana kebanyakan orang pada saat-saat seperti ini justru yang mereka berikan perhatian utama adalah kebutuhan duniawi semata-mata, apa yang kamu makan sepeninggalku nanti?. Bagaimana kamu mencukupi kebutuhan hidupmu?. Dari mana kamu akan mendapat penghasilan yang cukup?. Inilah perkataan yang keluar dari manusia pada saat ini.

Lihatlah bagaimana hamba Alloh yang sholih ini memberikan nasehat kepada buah hati yang paling dicintai dan disayanginya, orang yang paling pantas mendapatkan hadiah terbaik yang dimilikinya, yang oleh karena itulah, nasehat yang pertama kali disampaikannya untuk buah hatinya ini adalah perintah untuk menyembah, mentauhidkan Alloh ‘Azza wa Jalla semata-mata dan menjauhi perbuatan syirik.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Rohimahulloh berkata, “Salah seorang Ulama berkata, “Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’alaa pada hari kiamat nanti akan meminta pertanggungjawaban dari orang tua tentang anaknya sebelum meminta pertanggungjawaban dari anak tentang orang tuanya. Karena sebagaimana orang tua mempunyai hak yang harus dipenuhi anaknya, demikian pula anak mempunyai hak yang harus dipenuhi orang tuanya. Maka sebagaimana Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…”. (QS. At-Tahrim : 6)

Maka barangsiapa yang tidak mendidik anaknya dengan pendidikan yang bermanfaat baginya dan membiarkannya tanpa bimbingan, maka sungguh dia telah melakukan keburukan yang besar kepada anaknya tersebut. Mayoritas kerusakan moral pada anak-anak timbulnya justru karena kesalahan orang tua sendiri, dengan tidak memberikan pengarahan terhadap mereka, dan tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban serta anjuran-anjuran dalam agama. Sehingga karena mereka tidak memperhatikan pendidikan anak-anak mereka sewaktu kecil, maka anak-anak tersebut tidak bisa melakukan kebaikan untuk diri mereka sendiri, dan akhirnya merekapun tidak bisa melakukan kebaikan untuk orang tua mereka ketika mereka telah lanjut usia.

Sebagaimana yang terjadi ketika salah seorang ayah mencela anaknya yang durhaka kepadanya, maka anak itu menjawab, “Wahai ayahku, sesungguhnya engkau telah berbuat durhaka kepadaku, tidak mendidikku sewaktu aku kecil, maka akupun mendurhakaimu setelah engkau tua, karena engkau menyia-nyiakanku di waktu kecil maka akupun menyia-nyiakanmu di waktu engkau tua”.

Cukuplah sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam berikut menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan mendidik anak, Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga kelak, maka dia bertanya, “Bagaimana aku bisa mencapai semua ini?. Maka dikatakan padanya, Ini semua disebabkan istighfar, permohonan ampun kepada Alloh yang selalu diucapkan oleh anakmu untukmu”. (HR. Ibnu Majah)

Sebagian dari para Ulama ada yang menerangkan makna hadits ini yaitu, “Bahwa seorang anak jika dia menempati kedudukan yang lebih tinggi dari pada ayahnya di surga nanti, maka dia akan meminta, berdoa kepada Alloh ‘Azza wa Jalla agar kedudukan ayahnya ditinggikan seperti kedudukannya, sehingga Alloh ‘Azza wa Jalla pun meninggikan kedudukan ayahnya.

Dalam hadits shohih lainnya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “Jika seorang manusia mati maka terputuslah pahala amalnya kecuali dari tiga perkara, sedekah yang terus mengalir pahalanya karena diwakafkan, ilmu yang terus diambil manfaatnya, diamalkan sepeninggalnya, dan anak sholih yang selalu mendoakannya”. (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa semua amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh pahalanya akan sampai kepada orang tuanya, secara otomatis dan tanpa perlu diniatkan, karena anak termasuk bagian dari usaha orang tuanya. Adapun penyebutan “doa” dalam hadits tidaklah menunjukkan pembatasan bahwa hanya doa yang akan sampai kepada orangtuanya, tapi tujuannya adalah untuk memotivasi anak yang shaleh agar berdo’a untuk orang tuanya.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani Rohimahulloh berkata, “Semua pahala amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh, juga akan diperuntukkan kepada kedua orang tuanya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala anak tersebut, karena anak adalah bagian dari usaha dan upaya kedua orang tuanya”.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “Sungguh sebaik-baik rizki yang dimakan oleh seorang manusia adalah dari usahanya sendiri, dan sungguh anaknya termasuk bagian dari usahanya”. (HR. An-Nasai, At-Tirmidzi dll)

Kandungan ayat dan hadits yang telah di bacakan tadi juga disebutkan dalam hadits-hadist lain yang secara khusus menunjukkan sampainya manfaat pahala amal kebaikan, yang dilakukan oleh anak yang sholih kepada orang tuanya, seperti sedekah, puasa, memerdekakan budak dan yang semisalnya”.

Sahabat yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini. Semoga menjadi motivasi bagi kita untuk lebih memperhatikan pendidikan anak kita, utamanya pendidikan agama mereka, karena pada gilirannya semua itu manfaatnya untuk kebaikan diri kita sendiri di dunia dan akhirat nanti. Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla menganugerahkan kepada kita isteri-isteri dan keturunan kita sebagai penyejuk pandangan mata kita. Aamiin.

Wallohu a’lam…