Pembaca yang dirahmati Allah, pada zaman ini,  banyak permasalahan yang dihadapi setiap manusia, dan secara khusus kaum Muslimin, baik berkaitan dengan masalah lahir, batin, ataupun kejiwaan. Dari sini, muncullah berbagai ragam usaha untuk mengatasi problematika hidupnya. Tujuan utamanya, pada dasarnya hanya satu, yaitu mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman hidup, dan ketenangan jiwa.

Adapun bagi seorang muslim, sumber ketentraman hati adalah dengan mempertebal keimanan dan ketawakalan kepada Allah Ta’ala. Disadari atau tidak, adanya ketidak tentraman, ketakutan dan kekhawatiran berlebihan karena kurangnya keimanan dan ketawakalan kepada Allah.

Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang dan jauh dari rasa takut. Hal ini disebutkan di dalam al Quran surat ar-Ra’du ayat 28.

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.”

Mengingat Allah dalam dzikir adalah cara untuk menghilangkan keresahan dalam kehidupan, karena dzikir merupakan nutrisi bagi hati dan ruh menghidupkannya. Apabila seseorang telah meninggalkan dzikir maka dia telah kehilangan spiritual dalam jiwanya. Ia bagai seonggok jiwa yang tidak memiliki ruh sama sekali.

Oleh karena itu Pembaca, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata. “Dzikir bagi hati, bagaikan air bagi seekor ikan. Maka, bagaimanakah keadaan seekor ikan jika ia berpisah dengan air?.”

Dari penjelasan tersebut, maka jelaslah bahwa sesungguhnya penawar bagi orang yang hatinya gersang dan selalu resah adalah dengan dzikir. Adapun sebaik-baik dzikir adalah membaca al-Quran. Maka, sempatkanlah diri kita untuk membaca al-Quran di setiap hatinya. Syukur-syukur dengan menghafalkan dan memahami tafsirnya.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk melantunkan ayat-ayat suci Al Quran dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, dan Allah pun akan memuji mereka pada makhluk yang ada di dekatNya.”

Dengan memahami al-Qur’an, kita mendapatkan petunjuk dan ilmu yang luas, sehingga dengan petunjuk itu kita bisa menemukan kelapangan dan ketentraman,

Namun yang amat disayangkan, masih banyak kaum Muslimin yang belum memahami hal ini. Bahkan, untuk mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa, justru mencari-cari solusi selainnya. Padahal kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa yang hakiki tidaklah mungkin dihasilkan melainkan hanya dengan dzikrullah dan membaca al-Qur’an.

Oleh karena itu, tak heran jika Al Imam al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata. “Sesungguhnya hati tidak akan merasakan ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian, melainkan jika pemiliknya berhubungan dengan Allah , yakni dengan melakukan ketaatan kepadaNya. sehingga, barangsiapa yang tujuan utama dalam hidupnya, kecintaannya, rasa takutnya, dan ketergantungannya hanya kepada Allah , maka ia telah mendapatkan kenikmatan dari Allah, kemuliaan dan kebahagiaan akan dia dapat selama hidupnya.”

Dari penjelasan tersebut, maka ketika seseoranga meninggalkan ketaatan dan mendekati kemaksiatan. Hatinya akan menjadi sempit, gersang dan selalu gelisah.

Demikianlah, mudah-mudahan pemaparan ini bermanfaat bagi kita semua, dan kita menjadi pribadi yang selalu dekat dengan Allah dengan dzikrullah dan melazimkan diri membaca al-Qur’an dan merenungi maknanya. Sehingga jiwa kita selalu hidup dan tentram dengan cahaya iman.

Wallahu a’lam.