Anggota Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anton Tabah Digdoyo menilai ada upaya pecah belah umat Islam sehubungan ramainya kasus pembubaran kajian. Sebab, dahulu belum pernah terjadi pembubaran kajian semacam ini.

Menurut penjelasan Anton, dahulu masyarakat Indonesia disibukkan dengan perdebatan masalah khilafiyah. Misalnya, antara yang membaca qunut dan tidak. Namun kendati demikian, perdebatan tersebut tak pernah berujung persekusi antara satu sama lain.

Anton tampaknya heran, saat mendengar laporan adanya pemaksaan yang dilakukan oleh suatu ormas untuk membubarkan pengajian secara sepihak.

Anton Tabah juga mengkritisi tuduhan radikal dan anti Pancasila yang kini digunakan sebagai dalih pembubaran kajian. Menurutnya, hal itu terjadi akibat banyaknya orang-orang mendefinisikan kata radikal dengan semena-mena.

(kiblat.net)

Marhaban Romadhon SImpatiFM