Bagian Konsuler Kedutaan Besar Arab Saudi di Indonesia mengumumkan bahwa Pemerintah Arab Saudi tidak jadi memberlakukan rekam biometrik sebagai syarat penerbitan visa.

Pengumuman tertanggal 22 April 2019 tersebut menyampaikan bahwa, Divisi Konsuler menginformasikan bahwa telah terbit Keputusan Kerajaan Arab Saudi tanggal 9 April 2019, terkait tidak diwajibkannya perekaman biometrik di negaranya untuk proses penerbitan visa haji dan umroh bagi para jamaah.

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama RI, Nizar membenarkan kebijakan baru tersebut.

Sebagai tindak lanjut, Nizar sudah membuat surat edaran kepada seluruh Kakanwil Kemenag Provinsi se-Indonesia. Menurutnya, berdasarkan pengumuman tersebut, maka proses penerbitan visa bisa dilakukan tanpa harus menunggu rekam biometrik.

Nizar menuturkan bahwa Rekam biometrik akan dilakukan di Bandara Madinah dan Jeddah, kecuali bagi jamaah yang sudah melakukan perekaman di Tanah Air.

Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri, Muhajirin Yanis menambahkan, proses perekaman melalui VFS Tashil di Indonesia tetap dibuka. Namun, layanan itu sementara hanya untuk daerah yang mudah aksesnya sehingga mungkin untuk terus dilanjutkan.

Sedangkan untuk jamaah dari wilayah-wilayah kepulauan yang jaraknya jauh, perekaman akan dilakukan saat tiba di Madinah dan Jeddah.

Kasubdit Penyiapan Dokumen Haji Reguler, Nasrulloh Jassam mengatakan bahwa sampai Selasa sore, tercatat sebanyak 152 ribu jamaah yang sudah melakulan rekam biometrik.

Sebelumnya, Pemerintah Arab Saudi menjadikan rekam biometrik jamaah haji sebagai syarat proses penerbitan visa atau pemvisaan.

(hidayatullah/admin)