Asosiasi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir se-Indonesia atau AIAT menyatakan pentingnya evaluasi terjemahan Al-Qur’an.

Ketua AIAT, Sahiron Syamsuddin, mengatakan Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, dan bahasa bangsa lain pun tetap tidak akan bisa sempurna.

Supaya penerjemahan Al-Qur’an yang berbahasa Indonesia menjadi lebih sempurna, lebih mendekati makna-makna asli bahasa Arab dalam Al-Qur’an dari setiap ayat, maka perlu pengecekan ulang agar kosakata terjemahannya lebih tepat.

Sahiron menjelaskan, penyempurnaan terjemahan penting dilakukan agar kosakata yang digunakan dalam terjemahan bahasa Indonesia lebih mendekati makna sebenarnya bahasa Arab yang ada dalam Al-Qur’an. Meskipun hasilnya tetap tidak akan sempurna, tetapi akan lebih mendekati sempurna dan lebih baik dari terjemahan sebelumnya.

Dia mengatakan, di sinilah posisi strategis Ijtima Ulama Al-Qur’an Nasional yang dihelat Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama. Intinya dalam rangka menyempurnakan terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia. Agar lebih mendekati makna sebenarnya dari bahasa Arab yang ada dalam Al-Qur’an.

Selain itu, Sahiron menerangkan tata bahasa Indonesia terus berkembang dari tahun ke tahun. Artinya terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia pada tahun sebelumnya menggunakan tata bahasa Indonesia pada masa itu.

Ketika saat ini dilakukan revisi, maka dilakukan perbaikan, sehingga tata bahasa terjemahan Al-Qur’an sesuai dengan aturan tata bahasa Indonesia saat ini.

Sebelumnya, Kepala LPMQ Balitbang dan Diklat Kemenag, Muchlis Hanafi, menjelaskan bahwa ada beberapa aspek yang disempurnakan dalam Ijtima Ulama Al-Qur’an Nasional, di antaranya aspek bahasa, substansi atau makna, dan konsistensi. (republika/admin).