Kementerian Kesehatan akan menggelar diskusi terhimpun focus group discussion atau FGD dengan Majelis Ulama Indonesia. FGD yang digelar tiga hari, 25 hingga 27 Juli di Depok, Jawa Barat, itu dilakukan untuk membahas dakwah kesehatan haji. Hal ini sebagaimana diungkapkan Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Yusup Singka.

FGD itu juga digelar dalam rangka penguatan keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI tentang  kesehatan haji, safari wukuf dan badal melempar jumroh.

Eka menjelaskan empat tujuan sosialisasi hasil Ijtima MUI dalam dakwah kesehatan haji. Pertama, diperolehnya persamaan persepsi di kalangan ulama. Kedua, diseminasi informasi hasil Ijtima MUI tentang istitho’ah kesehatan haji kepada masyarakat luas. Ketiga, meningkatkanperan serta ulama dalam pembinaan jamaah haji melalui dakwah kesehatan haji. Lalu, keempat, diperolehnya komitmen dukungan ulama dalam istitho’ah kesehatan.

Istitho’ah yang dimaksud merujuk pada Peraturan Menteri Kesehatan. Ditegaskan di sana antara lain bahwa setiap jamaah haji berhak mendapatkan pembinaan dan pemeriksaan kesehatan untuk mencapai istitho’ah.

Dalam Permenkes tersebut, lanjut Eka, telah dijelaskan bahwa istitho’ah kesehatan jamaah haji memiliki makna kemampuan jamaah haji dari aspek kesehatan meliputi fisik dan mental yang terukur melalui pemeriksaan medis.

Secara umum, Eka menambahkan ada tiga hal yang menyebabkan jamaah haji tidak memenuhi syarat istitho’ah kesehatan. Pertama, penyakit yang bisa membahayakan diri sendiri dan jamaah lain. Kedua, gangguan jiwa berat. Ketiga, penyakit berat yang tidak dapat disembuhkan. (ihram/admin).