Sobat pembaca yang budiman, masih ada 2 pribadi lainnya yang menerima dakwah Islam sebelum datangnya musim haji pada tahun ke-11 dari kenabian.

  1. THufail bin Amru al-Dausi

Ia adalah seorang yang mulia, penyair yang cerdas dan pemimpin qabilahnya, Daus. Qabilahnya sendiri memiliki hubungan yang baik, mencakup beberapa wilayah di Yaman. Dia masuk ke Makkah pada tahun kesebelas Kenabian. Sebelum tiba di Makkah, Penduduk Makkah ia disambut sanak saudaranya di Makkah. Mereka rela mengeluarkan biaya berapapun untuk penyambutan yang meriah. Kemudian mereka berkata kepada Thufail, ‘Wahai Tufail, engkau sudah tiba didaerah kami. Sementara orang yang ditengah kami (maksudnya Rosululloh ) telah menghalangi kehendak kami, memecah belah persatuan kami, dan mencaci urusan kami. Perkataannya itu seperti sihir, mampu memisahkan antara seorang anak dengan ayahnya, antara seseorang dengan saudaranya, antara seorang suami dengan isterinya, dan kami mencemaskan keadaan dirimu dan kaummu seperti apa yang menimpa kami. Maka dari  itu janganlah engkau berbicara dengannya dan janganlah engkau mendengarkan apapun darinya. Mendengar hal tersebut, Thufail mengatakan, ‘Demi Allah, mereka terus menerus berkata seperti itu kepadaku, hingga aku memutuskan untuk tidak mendengar apapun darinya dan tidak berbicara apapun dengannya. Bahkan dalam perjalanan ke Masjid, aku sempat menyumbat telingaku dengan kapas supaya aku tidak mendengar apapun yang dikatakannya( ).  Setibanya di masjid, aku melihat Nabi Muhammad sedang berdiri sholat di dekat Ka’bah. Aku pun menghampiri beliau , di mana Allah menghendaki agar aku mendengar beberapa perkataan beliau , maka aku dapati kata-katanya baik sekali. Hingga aku berkata kepada diriku, di dalam hati, ‘demi ibuku yang melahirkanku dengan susah payah, dan demi Allah, aku adalah seorang penyair yang cerdas, aku bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Apakah yang menghalangiku mendengar apa yang dikatakan orang ini(yakni Rosululloh )?, jika kata-katanya baik, maka aku bisa menerimanya, dan jika buruk, aku akan meninggalkannya begitu saja.

Aku tetap diam seperti semula dan ketika beliau masuk ke dalam rumahnya aku pun turut masuk dengan menceritakan kepadanya kisah kedatanganku dan orang-orang yang selalu menakut-nakutiku, hingga terpaksa aku menyumbat telingaku dengan kapas dan akhirnya aku bisa mendengarkan sebagian perkataan beliau .” lalu aku berkata , “Jelaskanlah apa yang engkau katakan tadi kepadaku!”. Beliau pun memperkenalkan Islam kepada ku dan membacakan al-Quran kepadaku. Aku pun berkata, “Demi Allah, sesungguhnya tidak pernah aku mendengar kata-kata yang lebih indah dari kata-katanya itu dan tidak ada sesuatu yang lebih adil dari itu. Seketika itu pula aku terus memeluk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Lalu aku menegaskan kepada Rosululloh bahwa aku adalah orang yang dipatuhi di kalangan kaumku, dan hari ini aku akan pulang menemui kaum ku serta menyeru mereka kepada Islam. Maka berdoalah kepada Allah supaya aku diberikan sebuah bukti penguat agar mereka mau menerima islam. kemudian Rasulullah pun berdoa untukku.

Pembaca yang budiman, Maka Allah pun mengaruniakan kepadanya “tanda” yang apabila ia mendekati kaumnya, Allah menjadikan mukanya bercahaya seperti lampu, lalu ia berdoa, “Ya Allah, jangan jadikan cahaya ini di wajahku, kerana aku khawatir mereka akan mengatakan, “cahaya itu serupa dengannya (Nabi )”. lalu cahaya itu berpindah ke cambuknya. Kemudian ia pun mengajak ayah dan isterinya untuk masuk Islam, maka mereka berdua pun masuk Islam. Namun kaumnya tidak mau masuk Islam begitu saja, tetapi ia tetap berusaha menyeru kaumnya, hingga akhirnya ia berhijrah bersama tujuh puluh atau delapan puluh keluarga dari kaumnya, yaitu sebelum peperangan Khandak.  Thufail pun terus berjuang bersama kaum muslimin hingga ia terbunuh sebagai seorang yang syahid pada perang Yamamah.

  1. Pembaca yang budiman, satu orang lagi yang memeluk Islam pada saat itu adalah, Dhumad al-Azdi

Ia beradal dari Qabilah Azd-Syanu’ah dari Yaman mengobati seseorang dengan menghembuskan angin. Ia tiba di Makkah dan mendengar golongan sufaha’ (orang-orang yang bodoh) mengatakan, Bahwa Muhammad itu adalah orang gila. kemudian ia berkata dalam hatinya, “Aku akan menemui orang ini, siapa tahu Allah bisa menyembuhkannya dengan pengobatanku.” Setelah menemui Nabi , ia berkata,

Wahai Muhammad aku biasa mengobati seseorang dengan hembusan angin (jampi-jampi), bolehkah aku mengobatimu?” Rasulullah menjawab “Sesungguhnya segala pujian bagi Allah, bagiNya kita memuji, dariNya kita meminta pertolongan, barang siapa diberi hidayah oleh Allah, maka tiada yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkanNya maka tiada seorangpun yang bisa memberikannya petunjuk, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahawa Muhammad itu hamba dan Rosul-Nya.” Kemudian Dhumad berkata, “Tolong ulangi kembali kata-katamu tadi!”, lalu Rasulullah pun mengulanginya tiga kali.

Kemudian Dhumad berkata, “Aku sudah pernah mendengar ucapan para Dukun, mantera tukang sihir, serta puisi para penyair. Namun aku belum pernah mendengarkan seperti apa yang engkau katakan ini, padahal kami sudah menguasai perbendaharaan kata bahasa arab sedalam lautan. Berikanlah tanganmu agar aku bisa berbai’at atas nama Islam.” Maka ia pun berbai’at dan menyatakan keislamannya kepada beliau .

Pembaca yang budiman, setelah peristiwa tersebut. Pada musim haji tahun ke sebelas dari kenabian beliau , yang bertepatan dengan bulan Juli tahun 620 M., dakwah Islam menampakkan perkembangan yang baik. Dalam waktu yang singkat kaum muslimin bisa melepaskan diri dari kezholiman yang selama ini mereka terima dari musuh-musuh Allah. Di antara kecerdikan Rasulullah dalam menghadapi penindasan dan penganiaan penduduk Makkah yang selalu mendustakan beliau , adalah Rasulullah keluar di tengah malam untuk bertemu dengan berbagai Kabilah sehingga beliau tidak diganggu oleh kaum musyrikin Makkah.

Pembaca, pada suatu malam Rasulullah keluar bersama Abu Bakar dan Ali dan melewati perkemahan Dzuhl dan Syaiban bin Tsa’labah. Beliau memperkenalkan Islam kepada mereka. Hingga Abu Bakar dan salah seorang keturunan Dzuhl berdebat dengan cukup sengit. Banu Syaiban memberikan jawaban yang cukup baik terhadap dakwah Tauhid tersebut, namun mereka masih menunda untuk menerima Islam. kemudian ketika Rasululloh berjalan melewati Aqabah di Mina, beliau mendengar suara beberapa orang yang sedang berbincang-bincang.

Maka dari itu, Rasulullah segera menemui dan berbicara dengan mereka. ternyata mereka adalah enam pemuda Yatsrib, dari qabilah Khazraj. Mereka adalah, ‘ Asa’d bin Zurarah – Banu Najar, Awf bin al-Harith bin Rifa’ah bin Afra’ – Banu Najar, Rafi bin Malik bin al-Ijlan – Banu Zuraiq, Qatbah bin Amir bin Hadidah – Banu Salamah, Aqabah bin Amir bin Naabi – Banu Hiram bin Ka’b, dan Jabir bin Abdillah bin Riaad – Banu Abid bin Ghanam.

Pembaca yang budiman, penduduk Yatsrib sudah pernah mendengar dari kaum Yahudi tentang seorang nabi dari para Nabi yang diutus pada zaman tersebut, jika ia telah diutus maka mereka akan menjadi pengikut setianya, sehingga kaum Yahudi akan menghancurkan penduduk Yatsrib, sebagaimana hancurnya kaum ‘Ad dan Iram. Ketika Rasulullah menemui mereka, beliau bertanya, “siapa kalian?” Mereka menjawab,  “kami adalah orang-orang dari Suku Khazraj.” Kemudian Rasulullah bertanya kembali, “Jadi kalian adalah sekutu orang-orang Yahudi?” Mereka menjawab, “Ya!” lalu Rasulullah berkata, “Boleh aku duduk bersama kalian, hingga aku bisa berbincang-bincang dengan kalian?” “Ya boleh” jawab mereka. Mereka pun duduk bersama Rasulullah , lalu beliau menjelaskan kepada mereka tentang Islam, mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah dan membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada mereka. Salah seorang dari mereka berkata, “Demi Allah, inilah nabi yang pernah diceritakan kaum Yahudi kepada kalian, oleh karena itu jangan biarkan mereka mendahului kalian!” Maka mereka pun segera masuk Islam.

Pembaca yang budiman, Enam orang dari kabilah Khazraj ini, merupakan di antara penduduk Yatsrib yang berfikiran matang, mereka ingin api peperangan antar suku di Yatsrib padam dan mereka hidup bersatu dalam kedamaian. Mereka berkata kepada Rasulullah , “Wahai Rasulullah, kami tinggalkan kaum kami dalam keadaan saling bermusuhan, kami berharap semoga Allah menyatukan kami semua dengan perantaraan engkau wahai Rasulullah. Kami akan menemui mereka dan akan menyeru mereka kepada seruanmu ini. Kami akan tawarkan kepada mereka agama yang engkau bawa ini. Jika mereka menerimanya maka tidak ada orang yang lebih mulia, selain engkau.” Setelah sampai di Yatsrib, mereka berhasil menyebarkan Islam, hingga tidak ada satu rumah pun di Yatsrib,  melainkan mereka telah menyebut-nyebut nama Rasulullah .

Pembaca yang budiman, pada bulan syawal tauhun yang sama pula, beliau menikahi Aisyah pada saat ia berumur enam tahun.

lalu beliau tinggal bersamanya pada tahun pertama setelah Hijrah, saat usianya Sembilan tahun.

Wallohu a’lam.