Pusat Studi Tahanan Palestina mengungkapkan telah terjadi peningkatan luar biasa terkait jumlah penangkapan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Yerusalem sejak awal tahun ini. Lebih dari 900 kasus penangkapan terjadi di sekitar Kota Suci Yerusalem.

Juru bicara Pusat Studi Tahanan Palestina Riyad Al-Ashqar, mengatakan bahwa penangkapan di Yerusalem terus meningkat selama paruh pertama tahun ini. Totalnya berjumlah 2.600 kasus penahanan. Penahanan dan penangkapan untuk mencegah orang-orang Palestina melindungi situs-situs suci dan mempertahankan Masjid Al-Aqsa.

Al-Ashqar menyatakan bahwa kampanye penangkapan terbesar terjadi pada bulan Februari, ketika Gerbang Emas dibuka untuk para jamaah. Lusinan orang ditangkap termasuk para pemimpin nasional dan ulama, yaitu Sheikh Abdul Azim Salhab, Kepala Dewan Awqaf Yerusalem dan wakilnya, Najeh Bkerat.

Al-Ashqar juga menggarisbawahi bahwa penangkapan tersebut menargetkan berbagai kelompok di Yerusalem di semua desa, kota, dan lingkungan kota. Kota Al-Issawiya adalah yang paling banyak dilakukan penangkapan.

Israel tidak hanya memerintahkan anak-anak Yerusalem untuk ditangkap tetapi juga menjadikan mereka sebagai tahanan rumah, di mana mereka harus tinggal di dalam rumah selama periode waktu tertentu. Dengan demikian, mereka dilarang meninggalkan rumah sekalipun untuk berobat atau belajar. Anak-anak lain harus diusir dari rumah mereka dan membayar denda besar setelah dibawa ke pengadilan Israel.

Al-Ashqar menambahkan bahwa Israel juga menargetkan wanita, terutama mereka yang tinggal di Masjid Al-Aqsa.

(kiblat/admin)