Sahabat hijrah yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala. Perlu kita sadari bahwa kehidupan dunia adalah ujian bagi kita. Kok bisa ya dunia jadi ujian bagi kita? Ya karena memang tujuan kita diciptakan itu sendiri untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, sementara ada orang yang beribadah dan ingkar kepada Allah subhanahu wata’ala setelah diuji. Nah sahabat hijrah, salah satu ujian bagi umat Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam adalah ujian harta.

Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِى الْمَالُ-

“Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian/ dan ujian umatku adalah harta.”

Kenapa sih harta bisa dikategorikan sebagai ujian? Karena harta bisa menyebabkan manusia lalai dan lupa. Karena harta bisa melalaikan fikiran dari ketaatan dan bisa menyebabkan lupa akhirat.

Sementara itu, Allah subhanahu wata’ala menciptakan manusia dengan tabiat yang menyukai harta.

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”

Dari harta inilah timbul sifat-sifat buruk seperti serakah, sombong, menipu, menimbun harta dan kikir.

Oleh karena itu sahabat, dengan ujian harta ini bisa dilihat mana yang beriman dan mana yang nggak beriman, mana yang bertakwa dan mana yang nggak bertakwa, bahkan ada manusia yang menukarkan agamanya dengan dunia, gandrung kepadanya dan berbuat kerusakan dimuka bumi demi mendapatkan harta.

Oleh karena itulah sahabat, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِى غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Kerusakan pada sekawanan kambing akibat dua serigala lapar yang dilepaskan padanya tidak lebih parah dibandingkan kerusakan pada agama seseorang, akibat kerakusannya terhadap harta dan kemuliaan”

[H.R. Tirmidzi]

Kok bisa ya harta lebih merusak dibanding serigala yang dilepas di kumpulan kambing? Karena kerusakan pada agama seseorang yang disebabkan oleh kerakusannya, lebih parah daripada kerusakan yang ditimbulkan serigala pada sekawanan kambing. Bisa saja seseorang membunuh karena keserakahannya, menipu dan berbohong, hingga memutuskan tali persaudaraan dan kekerabatan gara-gara harta. Bahkan perang pun bisa terjadi karena harta.

Kesenangan terhadap harta juga bisa menjerumuskan seseorang pada perbuatan yang sia-sia dan bahkan perbuatan haram. Bisa jadi mencari harta dengan cara yang haram, atau menggunakan harta dari jalan yang halal dengan penggunaan yang diharamkan. Mungkin saja hartanya halal, tapi dia gunakan untuk membeli barang-barang haram dan semacamnya.

Harta juga bisa menyebabkan seseorang lupa kepada Allah subhanahu wata’ala dan melupakan kehidupan akhira. Dia mengundur-undur ibadah hanya karena sibuk mengurus harta, atau naudzubillah, bahkan tidak melaksanakan kewajiban agamanya. Misalkan orang yang mengundur waktu shalat atau meninggalkan shalat karena sibuk berdagang atau bercocok tanam.

Harta juga menimbulkan rasa bangga, sombong, riya dan sum’ah alias ingin dilihat dan didengar orang. Dengan harta ini bisa saja seseorang merendahkan orang lain dan membangga-banggakan harta yang dia miliki. Seperti apa yang dilakukan Qorun dengan hartanya yang melimpah.

Nah sahabat, maka tidak selayaknya bagi seorang muslim, memburu dunia ini dengan segala cara, memperbanyaknya, menyimpan dan menumpuknya tanpa menginfakkannya di jalan Alloh. Karena itu hanya akan menyeret hatinya menuju dunia dan perhiasannya serta memenjaranya.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

إِنَّ الْمُكْثِرِينَ هُمُ الْمُقِلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، إِلاَّ مَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ خَيْرًا ، فَنَفَحَ فِيهِ يَمِينَهُ وَشِمَالَهُ وَبَيْنَ يَدَيْهِ وَوَرَاءَهُ ، وَعَمِلَ فِيهِ خَيْرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak harta adalah orang-orang yang sedikit kebaikannya pada hari kiamat, kecuali orang yang diberi harta oleh Alloh, lalu dia memberi kepada orang yang disebelah kanannya, kirinya, depannya dan belakangnya. Dia melakukan kebaikan pada hartanya.”

[HR. Bukhori dan Muslim]

Nah sahabat, jadi nggak ada yang salah dengan harta, yang harus kita camkan adalah bagaimana kita menggunakan harta. Apakah anugerah berupa harta itu kita gunakan dijalan Allah subhanahu wata’ala atau bukan.

Sahabat hijrah yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala. Dalam urusan harta atau kesenangan dunia, seorang muslim hendaklah melihat orang yang berada di bawahnya, agar dia bisa bersyukur. Janganlah sebaliknya, melihat orang yang lebih banyak hartanya. Itu hanya akan memancing untuk berkeluh kesah, gelisah dan tidak bersyukur terhadap nikmat Alloh subhanahu wata’ala. bahkan bisa menyeret seseorang untuk menilai nikmat Alloh Azza wa Jalla yang ada pada dirinya kecil dan remeh.

Kenapa seseorang selalu merasa kurang dan terus berkeluh kesah? Karena dia hanya fokus melihat apa yang dia tidak punya, padahal ada banyak anugerah Allah subhanahu wata’ala yang diberikan kepadanya. Kita merasa sedih karena Allah subhanahu wata’ala tidak memberi apa yang kita pinta, padahal Allah subhanahu wata’ala memberi kita banyak anugerah yang tidak pernah kita pinta.

Selain itu sahabat, di dalam quran surat Thoha ayat 131, Allah subhanahu wata’ala juga memperingatkan manusia supaya jangan sampai tergoda dengan dunia.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kamu arahkan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka/ sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya// Dan karunia Rabb kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.”

Menurut Ibnu Katsir, melalui ayat ini Allah subhanahu wata’ala memperingatkan orang beriman supaya tidak melihat kemewahan dan kenikmatan-kenikmatan yang diperoleh oleh orang kafir. Karena kehidupan akhirat yang dimiliki oleh orang beriman jauh lebih baik.

Sahabat hijrah, terhadap kenikmatan dunia ini, kita diperintahkan untuk melihat ke bawah bukan melihat ke atas. Apa maksudnya? maksudnya adalah hendaknya kita jangan melihat orang yang lebih tinggi dibanding kita dalam hal keduniawian.

Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi yang berbunyi,

مَنْ رَأَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْخَلْقِ وَالرِّزْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ هُوَ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ يَزْدَرِىَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang melihat orang yang diberi kelebihan bentuk tubuh dan rizqi, maka hendaklah dia melihat orang yang di bawahnya yaitu orang yang diunggulinya, karena hal itu lebih pantas agar dia tidak meremehkan nikmat Alloh yang dianugerahkan padanya.”

Demikianlah pembahasan kali ini, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam