Utusan kepresidenan Rusia untuk Suriah, Alexander Lavrentif, menyatakan bahwa negaranya tidak akan mengizinkan zona de-eskalasi di Idlib Suriah menjadi zona aman bagi teroris.

Alexander mengatakan bahwa pertarungan melawan ‘teroris’ akan berlanjut, tetapi akan membutuhkan waktu tambahan. Ia mengklaim pihaknya masih berupaya untuk menstabilkan situasi.

Rusia berdalih bahwa mereka menentang operasi militer “skala besar” di kawasan itu dan mengklaim bahwa warga sipil dijadikan sebagai “tameng manusia”.

Pada September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-militerisasi setelah pertemuan antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan mitranya Vladimir Putin di kota Sochi di pesisir Rusia.

Ankara dan Moskow menandatangani nota kesepahaman yang menyerukan stabilisasi situasi di zona de-eskalasi Idlib, di mana tindakan agresi dilarang. Tetapi kesepakatan tersebut tidak memiliki arti karena serangan terjadi setiap harinya dan nyawa warga sipil di Idlib terus melayang.

(arrahmah/admin)

Marhaban Romadhon SImpatiFM