Sahabat hijrah, hidup mewah itu adalah kehidupan yang tidak sejalan dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah  -saws-  dan para salafus shalih. Hidup mewah selalu identik dengan pemborosan dan kesombongan dengan menampakan kemewahan. Hidup mewah juga selalu identik dengan memperturutkan keinginan dibanding kebutuhan.

Akan tetapi memilih hidup tidak mewah bukan berarti harus meninggalkan harta begitu saja dan alergi dengan segala kenikmatan dunia. Hidup tidak mewah adalah hidup sederhana dan sesuai dengan kebutuhan, tanpa berlebih-lebihan. Hidup tidak mewah juga berarti memiliki kepedulian dan rasa cinta kepada fakir miskin.

Sahabat hijrah, hidup miskin bukan berarti menyengaja menjauhi harta dunia, tapi karena memang kekayaan dunia Allah subhanahu wata’ala bagi-bagi kepada setiap makhluknya sesuai dengan hikmah dan tujuan yang ingin Allah subhanahu wata’ala capai. Andai semua orang kaya, apa yang akan terjadi? Atau andai semua orang miskin? Bagaimana jadinya dunia ini?. antara si kaya dan si miskin membutuhkan satu sama lain,

Sahabat hijrah, tentunya yang kaya memiliki keutamaan jika dia memberikan atau menyisihkan sebagian harta yang dimilikinya untuk fakir miskin, tapi fakir miskin juga memiliki keutamaan tersendiri di sisi Allah  -st- . tentunya ketika dia bersabar dengan segala kekurangannya.

Lalu, Apa saja keutamaan dari orang-orang miskin.

Yang pertama, Penghuni surga banyak dari kalangan orang miskin.

Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah  -saws- .

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ ، أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli surga itu?. Mereka itu adalah setiap orang yang lemah dan dianggap lemah oleh para manusia, tetapi jika ia bersumpah atas nama Allah, pastilah Allah mengabulkan apa yang disumpahkannya. Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli neraka itu?, Mereka itu adalah setiap orang yang keras, kikir dan gemar mengumpulkan harta lagi sombong.”

Hadits riwayat Bukhori dan Muslim.

Sahabat hijrah, Orang yang lemah yang dimaksud adalah orang yang diremehkan orang lain karena keadaan yang lemah di dunia alias miskin.

Ini bukan berarti orang kaya tidak bisa masuk surga dengan kekayaannya lho ya, orang kaya bisa masuk surga dengan amal baiknya dan tidak tercela dengan kekayaannya. dia tercela ketika kekayaan yang dia miliki malah membuatnya jauh dari Allah  -st- ,

Kemudian keutamaan yang kedua, Orang miskin mendahului orang kaya masuk surga.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah  -saws-  bersabda.

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya, yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.

Hadits riwayat Ibnu Majah dan Imam Tirmidzi.

Kenapa orang kaya bisa telat masuk surga?. lha iya, karena mereka harus menghadapi hisab terhadap harta mereka. sementara orang miskin hisab terhadap harta mereka tidak ada, atau paling tidak tidak selama hisab orang kaya dengan limpahan kekayaannya.

Kemudian keutamaan yang ketiga, orang miskin berkah doanya.

Sahabat hijrah, Dalam hadits disebutkan bahwa Sa’ad menyangka bahwa ia memiliki kelebihan dari sahabat lainnya karena melimpahnya dunia pada dirinya. lantas Rasulullah  -saws-  bersabda.

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ

Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian.”

Hadits riwayat Bukhori.

Dalam lafazh lain disebutkan bahwa Nabi  -saws-  bersabda,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ.

Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka.”

Nah sahabat, berkaitan dengan hadits ini, Ibnu Baththol berkata bahwa Ibadah dan doa orang miskin lebih ikhlas dan lebih terasa khusyu’, kenapa?. karena mereka tidak punya ketergantungan hati pada dunia dan perhiasannya.

Hati mereka pun jauh dari yang lain kecuali dekat pada Allah saja.  Amalan mereka bersih dan do’a mereka pun mudah diijabahi.

Akan tetapi sahabat hijrah, bukan berarti setiap yang tampak miskin bisa menunjukan kemiskinannya. karena toh banyak orang yang sebenarnya kaya, tapi pura-pura miskin.

Coba kita lihat para pengemis jalanan, rata-rata pengemis jalanan adalah orang mampu dan kuat yang malas bekerja, padahal di balik itu juga mereka kaya. walaupun mungkin tidak semuanya seperti itu, ada diantaranya yang memang tidak memiliki apa-apa dan bingung harus bagaimana. tapi ada juga yang menjadikan mengemis jadi pencaharian dan bahkan bisa membeli rumah dan tanah hasil dari mengemisnya.

Orang miskin yang baik dan terhormat adalah orang miskin yang tetap menjaga kehormatan dirinya, bisa mengais rezeki dengan halal tanpa meminta-minta, karena dia yakin bahwa Allah  -st-  akan menjamin rezekinya.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah  -saws-  bersabda.

لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِى تَرُدُّهُ الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِى لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِى أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا

Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan.Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia pun malu atau tidak meminta dengan cara mendesak.”

Hadits riwayat Bukhori.

Nah sahabat, oleh karena itu, hendaknya kita berusaha untuk memperoleh ridho Allah  -st- , tidak peduli kita orang yang berkecukupan atau orang yang berlimpah harta, atau orang miskin yang kekurangan harta, tujuan kita sama, yakni untuk menjadi hamba-hamba Allah  -st-  yang bertakwa.

Yang kaya, jadikan kekayaan untuk jalan menuju keridhoan Allah  -st- , jauhi hidup mewah, sombong dan berlebih-lebihan.

Yang miskin, jadikan kemiskinan sebagai ladang pahala lewat kesabaran, rasa qonaah dan tetap menjaga kehormatan. karena Allah  -st-  tidak akan menelantarkan hamba-hamba-Nya.

Akhir kalam. mari kita selalu menjadi pribadi yang bertakwa dan berdoa untuk istiqomah dalam kebenaran.

Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.