Ibu Simah Tangerang

Pertanyaannya

Almarhum ibu di ramadan terakhir selama 30 hari, tidak puasa karena uzur dan saat itu kami tidak mampu membayar fidyah. Pertanyaan, 1. Bolehkah membayar fidyahnya? 2. Berapa kadar dan cara membayar fidyah?

Jawaban nya

Ada 2 kondisi bagi orang yang meninggal terkait dengan kewajiban puasa Ramadhan di antaranya sebagai berikut :

Pertama, Orang tersebut wafat sebelum sempat berpuasa karena waktu yang sempit atau adanya uzur seperti sakit sehingga tidak sanggup berpuasa. Maka orang yang wafat dalam kondisi seperti ini menurut mayoritas fuqoha tidak berkewajiban apapun, sebab ia tidak melalaikan atau meremehkan puasa Ramadhan.

Ia tidak berdosa karena tidak mampu melaksanakan puasa hingga ajal menjemputnya. Hukum wajibnya gugur sebagaimana halnya kewajiban haji. Ahli waris dan wali dari orang yang meninggal ini tidak berkewajiban menggantikan puasa atau membayarkan fidyahnya.

Kedua, Orang tersebut wafat setelah ia berkemungkinan melakukan puasa yakni mengqodho’nya. Maka ada perbedaan pendapat dalam hal ini.

Menurut mayoritas fuqoha walinya tidak perlu berpuasa untuknya, melainkan hanya membayarkan fidyah yang dikeluarkan dari harta yang ditinggalkan orang tersebut. Bahkan menurut pendapat baru dari mazhab Syafi’i, jika walinya berpuasa untuknya maka puasanya tidak sah karena puasa merupakan ibadah badaniyah mahdhoh sama halnya dengan shalat yang tidak bisa diwakilkan pada saat masih hidup atau pun sesudah meninggal.

Yang wajib dilakukan oleh ahli waris atau walinya  hanyalah membayarkan fidyah baginya sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar; “Barangsiapa mati, sedangkan dia mempunyai tanggungan puasa selama sebulan, hendaknya dia diwakili oleh walinya untuk memberi makan seorang miskin setiap hari.” (HR Ibnu Majah)

Menurut sebagian mazhab Hambali, sekelompok muhaddits mazhab Syafi’i, Abu Tsaur al-Auza’i, dan sebagainya, berpendapat bahwa ahli waris dan wali orang yang sudah wafat tersebut disunahkan berpuasa baginya sebagai tindakan kehati-hatian demi terbebasnya mayat dari tanggungannya.

Dalil mereka adalah beberapa hadits, di antaranya yang diriwayatkan dari Aisyah, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mati sedangkan dia memiliki tanggungan puasa, hendaknya walinya berpuasa untuknya.” (HR.Muttafaq ‘alaihi)

Pendapat kedua tentang orang yang wafat setelah ia berkemungkinan mengqodho’nya, bahwa kewajiban mengqadha utang puasa mayit, hanya berlaku untuk puasa nadzar, sedangkan utang puasa ramadhan ditutupi dengan bentuk membayar fidyah.  Ini adalah pendapat madzhab hambali, sebagaimana keterangan Imam Ahmad yang diriwayatkan Abu Daud dalam Masailnya. Abu Daud mengatakan,

“Saya mendengar Ahmad bin Hambal mengatakan: ‘Tidak diqadha utang puasa mayit, kecuali puasa nadzar.”

Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah hadis dari ummul mukminin, A’isyah .

Dari Amrah – murid A’isyah – beliau bertanya kepada gurunya A’isyah, bahwa ibunya meninggal dan dia masih punya utang puasa ramadhan. Apakah aku harus mengqadha’nya? A’isyah menjawab,

لا بل تصدَّقي عنها مكان كل يوم نصف صاعٍ على كل مسكين

“Tidak perlu qadha, namun bayarlah fidyah dengan bersedekah atas nama ibumu dalam bentuk setengah sha’ makanan, diberikan kepada orang miskin. (HR. At-Thahawi dalam Musykil Al-Atsar, shohih)

Dalil lainnya adalah fatwa Ibnu Abbas . Dari Said bin Jubair – murid Ibnu Abbas – bahwa gurunya pernah mengatakan,

“Apabila ada orang sakit ketika ramadhan kemudian dia tidak puasa, sampai dia meninggal, belum melunasi utang puasanya, maka dia membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin dan tidak perlu membayar qadha. Namun jika mayit memiliki utang puasa nadzar, maka walinya harus mengqadhanya. Hadits shohih riwayat Abu Daud.

Lalu, seperti apa perhitungan untuk membayar fidyah tersebut?

Ulama Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa kadar fidyah adalah 1 mud bagi setiap hari tidak berpuasa. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa kadar fidyah yang wajib adalah dengan 1 sho’ kurma, atau 1 sho’ gandum atau ½ sho’ biji gandum. Ini dikeluarkan masing-masing untuk satu hari puasa yang ditinggalkan dan nantinya diberi makan untuk orang miskin.

Ukuran 1 sho’ sama dengan 4 mud. Satu sho’ kira-kira 3 kilogram. Sedangkan setengah sho’ kira-kira 1,5 kilogram.

Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Jumhur atau mayoritas ulama berpendapat bahwa fidyah adalah satu mud bagi setiap hari yang ditinggalkan.

Beberapa ulama belakangan seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Sholih Al Fauzan dan Komisi Fatwa Saudi Arabia mengatakan bahwa ukuran fidyah adalah setengah sho’ dari makanan pokok di negeri masing-masing, baik dengan kurma, beras maupun yang lainnya. Mereka mendasari ukuran ini berdasarkan pada fatwa beberapa sahabat di antaranya Ibnu ‘Abbas . Dan pendapat ini lebih hati-hati untuk kita amalkan karena ada atsar dari sahabat, dan ½ setengah sho’ setara dengan 1,5 kg satu koma lima kilo gram.

Inti pembayaran fidyah adalah mengganti satu hari puasa yang ditinggalkan dengan memberi makan satu orang miskin. Namun, model pembayarannya dapat diterapkan dengan dua cara,

Pertama, memasak atau membuat makanan, kemudian mengundang orang miskin sejumlah hari-hari yang ditinggalkan selama bulan Ramadhan. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Anas bin Malik ketika beliau sudah menginjak usia senja dan tidak sanggup berpuasa.

Kedua, memberikan kepada orang miskin berupa makanan yang belum dimasak, yaitu beras dengan kadar ½ stengah sho’ untuk setiap harinya. Alangkah lebih sempurna lagi jika juga diberikan sesuatu untuk dijadikan lauk.

Pemberian ini dapat dilakukan sekaligus, misalnya membayar fidyah untuk 20 hari disalurkan kepada 20 orang miskin. Atau dapat pula diberikan hanya kepada 1 orang miskin saja sebanyak 20 hari.

Al Mawardi rohimahulloh mengatakan, “Boleh saja mengeluarkan fidyah pada satu orang miskin sekaligus. Hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.”

Wallohu a’lam.