Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia atau SNHR, menyebut setidaknya 544 warga sipil Suriah meninggal dunia dan lebih dari 2 ribu orang lainnya terluka akibat serangan militer Rusia. Jumlah itu tercatat sejak Rusia mulai menggempur Provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak dua bulan lalu.

Menurut SNHR, dari 544 warga sipil yang tewas, 130 di antaranya adalah anak-anak. Hal itu menjadi bukti bahwa Rusia dan Suriah memang melancarkan serangan tanpa pandang bulu.

Ketua SNHR, Fadel Abdul Ghoni menyatakan bahwa militer Rusia dan sekutu Suriahnya sengaja menargetkan warga sipil dengan sejumlah fasilitas medis yang dibom.

Wakil Presiden Persatuan Organisasi Perawatan dan Bantuan Medis atau U-M-C-R-O, Khaula Sawah, mengatakan terdapat puluhan fasilitas medis di Idlib yang hancur akibat serangan udara. Akibatnya, ribuan warga di sana tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan.

Menurut Khaula, serangkaian serangan udara selama dua bulan terakhir merupakan yang paling ganas.

Tahun lalu, Rusia dan Suriah memang telah berencana untuk merebut kembali Idlib dari tangan oposisi yang menguasai wilayah tersebut. Namun PBB segera mengingatkan kedua negara agar menghindari pertumpahan darah saat melaksanakan operasi militer. (republika/admin).

Marhaban Romadhon SImpatiFM