Konferensi Asean Plus dalam Membela Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqso yang digelar di Putrajaya, Malaysia telah berakhir pada Ahad, 24 Maret 2019.

Konferensi tersebut diikuti oleh delegasi dari 24 negara dan sekitar 600 peserta dalam dan luar negeri. Di akhir konferensi, seluruh delegasi kemudian mengeluarkan pernyataan yang disebut dengan Deklarasi Putrajaya dan Rencana Kerja “Bersatu Bebaskan Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqso”.

Isi dari Deklarasi Putrajaya di antaranya adalah, menegaskan kembali bahwa Baitul Maqdis merupakan ibu kota abadi Palestina dan setiap langkah untuk mengubah keadaan tersebut sama sekali tidak dapat diterima.

Menegaskan kembali dukungan penuh kepada orang-orang Al-Quds dalam kebutuhan mereka dan membantu ketabahan mereka untuk melawan penjajahan serta tidak berkompromi dengan rezim Israel.

Dalam Deklarasi juga disebutkan, menyesalkan kelambanan agensi-agensi internasional atas serangan yang berkelanjutan oleh pasukan penjajah Israel, yang melanggar hukum internasional tentang kesucian tempat suci yang mulia.

Mengutuk pelanggaran terus-menerus oleh pasukan polisi Israel secara teratur yang mengganggu status quo dan memungkinkan pengunjung Yahudi memasuki Baitul Maqdis.

Sementara kunjungan Yahudi diizinkan di kompleks ibadah, orang-orang non muslim dilarang masuk menurut kesepakatan yang ditandatangani antara Israel dan pemerintah Yordania.

Sepenuhnya mendukung resolusi majelis umum PBB pada Desember 2018, yang menolak segala hubungan antara Yudaisme dan perlindungan Al-Aqso.

Poin terakhir dari deklarasi tersebut, mengingatkan bahwa OKI didirikan sebagai respon terhadap serangan oleh seorang Yahudi kelahiran Australia di Masjid Al-aqso. Namun hingga kini perannya dinilai masih belum efektif dalam mempertahankan masjid suci di bawah serangan yang lebih parah oleh pasukan penjajah Israel. (arrahmah/admin)