Dolkun Isa, presiden Kongres Uighur Dunia, sebuah organisasi advokasi yang berbasis di Jerman, menyayangkan sikap Erdogan yang telah melewatkan peluang sempurna untuk meningkatkan kesadaran tentang tindakan represif Cina terhadap kaum Uighur ketika bertemu Xi Jinping.

Pertemuan kedua kepala negara itu di antaranya membahas tentang proyek “Jalur Sutra”. Stabilitas di Xinjiang dipandang penting bagi keberhasilan proyek karena lokasinya yang utama di sepanjang rute perdagangan yang membentang ke barat.

Isa mengatakan bahwa antara satu dan tiga juta orang Uighur telah menjadi sasaran indoktrinasi politik, penyiksaan, pembunuhan dan pelanggaran hak asasi manusia serius lainnya di “kamp konsentrasi abad ke-21”.

Isa mengaku sangat sedih dan kecewa dengan tindakan Erdogan yang selalu mengaku sebagai pemimpin dunia Muslim, yang membela populasi Muslim di seluruh dunia, tetapi dia tidak bisa berbicara tentang Muslim Uighur di Turkistan Timur.

Amnesty International dan Human Rights Watch mengatakan bahwa sekitar satu juta orang, sebagian besar warga Uighur atau anggota minoritas Turki lainnya, ditahan secara sewenang-wenang di kamp-kamp di Xinjiang. (kiblat/admin).