134 orang termasuk anak-anak dan perempuan tewas dalam serangan terhadap sebuah desa di Mali, di tengah gelombang kekerasan etnis dan Islam di negara Afrika Barat.

Puluhan lainnya terluka dalam pembantaian yang terjadi di Ogossagou, sebuah desa milik kelompok penggembala Muslim Fulani.

Moulaye Guindo, walikota kota terdekat Bankass, menyalahkan serangan terhadap pemburu Dogon, sebuah kelompok yang telah lama hidup berdampingan dengan Fulani, namun keduanya terlibat bentrok berulangkali.

Dua saksi mata mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa hampir semua gubuk di desa itu dihancurkan.

Guindo mengatakan bahwa insiden tersebut merupakan serangan paling mematikan dalam pbeberapa waktu terakhir. Sedangkan, pasukan Mali tiba di lokasi pembantaian pada sore hari.

Bentrokan berulang telah terjadi antara Fulani dan kelompok Dogon karena perselisihan tentang akses ke tanah untuk menggembalakan ternak dan air. Dogon juga menuduh Muslim Fulani mendukung jihadis yang berada di wilayah utara dan di luar negeri. Sebaliknya, Fulani mengatakan bahwa Dogon mendukung upaya tentara Mali untuk membasmi apa yang mereka tuding ekstrimisme tanpa pandang bulu.

Setelah insiden tersebut, Pemerintah Mali telah melarang kelompok pemburu yang disebut-sebut berada di balik serangan mematikan tersebut. Kelompok yang dilarang oleh pemerintah, Dan Na Ambassagou, adalah kelompok payung dari kelompok Dogon, komunitas berburu tradisional. (arrahmah/admin)