Pemerintah Malaysia dilaporkan telah menunjuk sebuah lembaga internasional untuk melakukan penelitian tentang dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan China terhadap penduduk Muslim Uighur.  Kuala Lumpur mengatakan, lembaga ini ditugaskan untuk mengungkap fakta sebenarnya tentang laporan pelanggaran HAM di Xinjiang.

Menteri Luar Negeri Malaysia, Saifuddin Abdullah mengatakan, Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam atau ISTAC telah ditugaskan untuk menulis laporan terperinci tentang situasi warga Uighur di provinsi Xinjiang.

Abdullah mengatakan bahwa Malaysia tidak akan  membabi buta mendukung laporan yang diberikan oleh pemerintah China, tidak juga secara terbuka mengkritik China. Hal ini sebagaimana diungkapkan Abdullah dalam sebuah pernyataan. Ia menambahkan bahwa pihaknya ingin memastikan kebenaran di balik setiap laporan, sehingga nantinya ISTAC akan memberikan hasil laporannya. Hal ini sebagaimana dikutip media senin kemarin.

Wilayah Xinjiang di barat China adalah rumah bagi 10 juta warga Uighur. Etnis Uighur membentuk sekitar 45 persen dari populasi Xinjiang. Etnis Uighur telah lama menuduh pemerintah Cina melakukan diskriminasi budaya, agama dan ekonomi.

China disebut melakukan kebijakan represif terhadap warga Uighur dan menahan hak-hak agama, komersial, dan budaya. Sekitar satu juta orang, atau sekitar tujuh persen dari populasi Muslim di Xinjiang, telah dipenjara dalam jaringan yang diperluas dari kamp pendidikan ulang politik.

suaraislam/admin