Pendengar yang budiman dimana saja saat ini anda berada, setelah Umar mendengar keislaman saudara perempuannya, ia pun bersitegang dengan saudara perempuan dan iparnya, hingga memukul saudara perempuannya yang berakibat mengalirlah darah diwajah saudara perempuannya. Manakala ‘Umar merasa sedih dan menyesal, melihat kondisi saudaranya yang berdarah, lalu ia berkata, “berikan kitab yang ada ditangan kalian ini kepadaku dan bacakan untukku!“.

Saudaranya itu berkata:”sesungguhnya engkau itu najis, dan tidak ada yang boleh menyentuhnya melainkan orang-orang yang suci. Oleh karena itu, berdiri dan mandilah!“. Kemudian dia berdiri dan mandi, lalu mengambil kitab tersebut dan membaca surat Thoha, hingga ayat yang berbunyi,

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku“. (QS. 20/thâha: 14).

Setelah membacanya, Umar rodhiallohu ‘anhu berkata, “alangkah indah dan mulianya kalam ini! Kalau begitu, tolong bawa aku ke hadapan Muhammad ( )!“.

Kemudian, Saat Khabbab mendengar ucapan ‘Umar , dia segera keluar dari persembunyiannya sembari berkata, “wahai ‘umar, bergembiralah karena sesungguhnya aku berharap engkaulah yang dimaksud dalam doa Rasulullah pada malam Kamis “Ya Allah! muliakanlah/kokohkanlah Islam ini dengan salah seorang dari dua orang yang paling Engkau cintai: ‘Umar bin al- Khaththab atau Abu Jahal bin Hisyam“.  Kemudain Khobbab memberitahu Umar, dengan berkata, “sesungguhnya Rasulullah (saat ini) sedang berada di rumah yang terletak di kaki bukit shafa.

Sahabat yang budiman, mendengar informasi tersebut, ‘Umar langsung mengambil pedangnya (yang sebelumnya untuk membunuh Rosululloh ) sembari menghunusnya, lalu berangkat hingga tiba di rumah tempat beliau berada. Lantas Umar mengetuk pintu, lalu seorang penjaga pintu mengintip dari celah-celah pintu tersebut dan melihat Umar sedang menghunus pedang. Penjaga tersebut kemudian melaporkan hal itu kepada Rasulullah . Para shahabat yang berjaga di rumah tersebut pun semakin bersiaga penuh mengantisipasinya. Melihat sikap siaga para sahabt Nabi tersebut, Hamzah bertanya, “ada apa gerangan dengan kalian?“.

Mereka menjawab: ” ‘Umar!“.

Dengan penuh keberanian dan gagah, Hamzah berkata: “oh, ‘Umar! Bukakan pintu untuknya! Jika dia datang dengan niat baik, kita akan membantunya akan tetapi jika dia datang dengan niat jahat, kita akan membunuhnya dengan pedangnya sendiri“.

Sementara pada Saat itu, Rasulullah masih di dalam rumah dan diberitahu perihal ‘Umar, maka beliau pun keluar menyongsongnya dan menjumpainya di bilik. Ketika Umar masuk, Beliau langsung sigap memegang baju dan gagang pedangnya, lalu menariknya dengan keras, seraya bersabda, “tidakkah engkau akan berhenti dari tindakanmu, wahai ‘Umar hingga Allah menghinakanmu dan menimpakan bencana sebagaimana yang terjadi terhadap al-Walid bin al-Mughirah? Ya Allah! inilah ‘Umar bin al-Khaththab! Ya Allah! muliakanlah/kokohkanlah Islam dengan ‘Umar bin al-Khaththab!“.

Tak perlu menunggu lama, Umar langsung berkata:”Aku bersaksi bahwa tiada Robb (Yang berhak disembah) selain Allah dan engkau adalah Rasulullah“.

Dengan syahadatnya ini, Umar pun masuk Islam yang disambut dengan pekikan takbir oleh para sahabat  yang berada di rumah tersebut sehingga terdengar oleh orang yang berada didalam al- Masjid (al-Haram-red).

Sahabat yang budiman, ‘Umar merupakan sosok yang memiliki harga diri yang tinggi dan keinginan yang tidak bisa dihalang-halangi.

Oleh karena itulah, keislamannya menimbulkan goncangan luar biasa di kalangan kaum Musyrikun Quraisy dan membuat mereka semakin terhina dan patah arang sementara bagi kaum Muslimin, hal itu menambah ‘izzah, kemuliaan dan kegembiraan.

Ibnu Ishaq rohimahulloh meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Umar , dia berkata, “tatkala aku sudah masuk Islam, aku mengingat-ingat, siapa saja penduduk Mekkah yang paling keras terhadap Nabi . lalu Aku berkata, ‘ pasti Abu Jahal lah orangnya“. Lalu aku datangi dia dan aku ketuk pintu rumahnya. Dia pun keluar menyambutku sembari berkata, “selamat datang! Ada apa denganmu?“.

“aku datang untuk memberitahumu bahwa aku telah beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad , serta membenarkan apa yang telah dibawanya”.

Lalu dia pun menutup pintunya dengan keras di hadapan wajahku sembari berkata, “Mudah-mudahan Allah menjelekkanmu dan apa yang engkau bawa“.

Sementara itu Sahabat, Dalam versi Ibnu al-Jauziy disebutkan bahwa ‘Umar berkata, “Dulu, jika seseorang masuk Islam, maka orang-orang (kafir Quraisy) menghampirinya lantas memukulinya dan dia juga memukuli mereka, namun (aku berbeda) tatkala aku telah masuk Islam, aku mendatangi pamanku, al-‘Âshiy bin Hâsyim, dan memberitahukan kepadanya hal itu, dia malah masuk rumah. Lalu aku pergi ke salah seorang pembesar Quraisy -sepertinya Abu Jahal- dan memberitahukannya perihal keislamanku, tetapi dia juga malah masuk rumah“.

Kemudian dalam riwayat lain, Ibnu Hisyam rohimahulloh juga menyebutkan -demikian pula Ibnu al-Jauziy secara ringkas- bahwa ketika dia (‘Umar ) masuk Islam, dia mendatangi Jamil bin Ma’mar al-Jumahiy – yang merupakan penyambung lidah Quraisy yang paling getol – dan memberitahukan kepadanya tentang keislamannya, orang ini langsung berteriak dengan sekeras-kerasnya bahwa Ibnu al-Khaththab telah menjadi penganut ash-Shâbiah (Islam). Umar pun menimpali –dibelakangnya- dengan berkata, “dia bohong, akan tetapi aku telah masuk Islam“. Mendengar seruan tersebut, Mereka (Orang-orang Kafir Quraisy)pun (berdatangan dan) menyergap Umar sehingga akhirnya terjadilah pertarungan antara ‘Umar seorang diri melawan mereka. kemudian karena sengitnya pertarungan tersebut, Pertarungan itu baru selesai saat matahari sudah berada tepat diatas kepala mereka, dan ‘Umar sudah Nampak kepayahan. Dia hanya bisa duduk sementara mereka berdiri dekat kepalanya.

Umar lantas berkata kepada mereka:”lakukanlah apa yang kalian suka. Sungguh aku bersumpah atas nama Allah, bahwa andai kami berjumlah tiga ratus orang, niscaya telah kami biarkan mereka untuk kalian atau kalian biarkan mereka untuk kami (maksudnya kami akan membela diri)“.

Setelah kejadian itu, kaum Musyrikun berangkat dalam jumlah besar menuju rumahnya dengan tujuan akan membunuhnya.

Selanjutnya Sahabat, Imam al-Bukhariy juga meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar -rau-ma, dia berkata, “Saat ‘Umar berada di rumahnya dalam kondisi cemas, datanglah al-‘Âsh bin Wâil as-Sahmiy, Abu ‘Amru, sembari membawa mantel dan baju yang dilipat dan terbuat dari sutera. Dia berasal dari suku Bani Sahm yang merupakan sekutu kami di masa Jahiliyyah. ‘Umar berkata kepadanya: “ada apa denganmu?“, “ kaummu mengaku akan membunuhku bila aku masuk Islam“. Kemudian Abu Amru berkata kepada ‘Umar -: ” kamu aman, tidak akan ada yang bisa melakukan hal itu terhadapmu (membunuhmu)“.

Asl-Âsh kemudian keluar dan mendapatkan banyak orang yang sudah memadati lembah tersebut, lantas dia berkata kepada mereka, ” hendak kemana kalian?

Mereka menjawab:”menemui si Ibnu al-Khaththab yang sudah menjadi penganut ash-Shâbiah ini!“.

Dia menjawab: “kalian tidak akan bisa melakukan hal itu (membunuh Umar)terhadapnya“. Mendengar hal tersebut, Orang-orang kafir  itupun pergi secara bergerilya.

Demikianlah Sahabat yang budiman dimana saja saat ini anda berada, dampak keislaman Umar terhadap kaum Musyrikun, sedangkan terhadap kaum muslimin adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Mujâhid dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata,

aku bertanya kepada ‘Umar: ‘kenapa kamu dijuluki al-Fârûq? ‘.

Umar berkata, ‘Hamzah masuk Islam tiga hari lebih dahulu dariku –selanjutnya dia menceritakan kisah keislamannya, dan diakhirnya dia berkata- lalu aku (Umar ) berkata (saat aku sudah masuk Islam):

Wahai Rasulullah! Bukankah kita berada diatas kebenaran, mati ataupun hidup?“.

Beliau menjawab: “tentu saja! Demi Yang jiwaku berada ditanganNya, sesungguhnya kalian berada diatas kebenaran, mati ataupun hidup“.

 

Lalu aku berkata: “lantas untuk apa bersembunyi-sembunyi? Demi Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, sungguh kita harus keluar (menampakkan diri).

Lalu beliau membagi kami (kaum muslimin) dalam dua barisan, salah satunya dipimpin oleh Hamzah dan yang lainnya, dipimpin olehku (Umar ). deru debu dan pasir tersebut yang ditinggalkannya ibarat ceceran gandum yang dihaluskan. Akhirnya kami memasuki al-Masjid al- Haram. Kemudian aku menoleh ke arah Quraisy dan Hamzah -rau-, mereka tampak diliputi oleh kesedihan yang tidak pernah mereka rasakan seperti itu sebelumnya. Sejak saat itulah, Rasulullah menamaiku “al-Fârûq “.

Sahabat yang budiman, keislaman Umar sangat penting bagi kemuliaan islam dan kaum muslimi kala itu, Ibnu Mas’ud sering berkata,

sebelumnya, kami tak berani melakukan shalat di sisi Ka’bah hingga ‘Umar masuk Islam“.

Dari Shuhaib bin Sinan ar-Rûmiy , dia berkata, “ketika ‘Umar masuk Islam, barulah Islam menampakkan diri dan dakwah kepadanya dilakukan secara terang-terangan. Kami juga berani duduk-duduk secara melingkar di sekitar Baitullah, melakukan thawaf, mengimbangi perlakuan orang yang kasar kepada kami serta membalas sebagian yang diperbuatnya (orang-orang musyrik)“.

Selain itum masih Dari ‘Abdullah bin Mas’ud , dia berkata, “kami senantiasa merasakan ‘izzah (kemuliaan) sejak ‘Umar masuk Islam“.

Demikianlah Sahabat yang budiman dimana saja saat ini anda berada, pengaruh Keislaman Umar bagi orang-orang Musyrik dan Orang-orang yang Beriman. Mudah-mudahan kita dapat mengambil pelajaran dan contoh dari keislam Dua singa Quraisy ini, Umar bin al-Khoththob dan Hamzah bin Abdul Muthollib . Wallohu a’lam.