Jamaah muslim di Sri Lanka tetap mendatangi masjid untukmelaksanakan shalat Jumat meski pemerintah negara tersebut melarangnya. Jumat 26 april pascaterjadinya teror bom di sejumlah tempat di Sri Lanka, azan shalat Jumat tetap berkumandang di Masjid Masjidus Salam Jumma, Kolombo.

Ibadah shalat Jumat berlangsung dengan penjagaan ketat dari pihak kepolisian yang dipersenjatai senapan serbu Kalashnikov. Tak hanya pihak kepolisian, sejumlah warga juga secara sukarela berjaga.

Imtiyas Ahamed, seorang penceramah masjid menegaskan bahwa kelompok ekstremis bukanlah Muslim yang sesungguhnya. Ahamed mengatakan bahwa Dalam Islam tidak ada perkataan untuk membunuh dirimu sendiri, apalagi orang lain.

Sebelumnya, Menteri Sri Lanka untuk Urusan Agama Islam, Abdul Haleem mendesak masjid-masjid membatalkan rencana shalat Jumat berjamaah sebagai tanda solidaritas kepada gereja Katolik. Pengumuman serupa juga ditujukan bagi seluruh layanan publik dengan alasan keamanan, Kamis.

Larangan ini juga didukung oleh PM Ranil Wickremesinghe yang mengkhawatirkan para pelaku teror lainnya mungkin akan keluar untuk serangan bunuh diri lainnya.

Sebelumnya serangan bom bunuh diri di tiga gereja dan tiga hotel mewah di Hari Paskah lalu telah menewaskan setidaknya 253 orang dan melukai 500 orang lainnya. (islampos/admin).