Ketua MUI Kabupaten Minahasa Utara, Ustaz Baidlowi Ibnu Hajar menceritakan kronologis peristiwa perusakan mushala di Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Sebelumnya, video perusakan mushala menyebar di media sosial dan membuat banyak masyarakat resah.

Ustaz Baidlowi mengatakan, kejadian berawal ketika jamaah tabligh datang ke Mushala Perum Agape Tumaluntung pada hari Ahad. Mereka sudah mengantongi izin dari kepolisian, RW, dan RT setempat.

Namun pada hari Selasa, RT setempat justru mempertanyakan surat izin yang dibawa jamaah tabligh tersebut. Berdasarkan informasi yang didapat MUI Minahasa Utara, ternyata jamaah tabligh mendapat surat izin palsu dari RT palsu.

Kemudian dilakukan diskusi dan hasilnya jamaah tabligh diminta pergi dari mushala. Mereka pun akhirnya pagi. Namun pada malam harinya terjadi perusakan rumah ibadah dengan alasan tidak ada izin bangunan.

Menurut informasi yang didapat MUI Minahasa Utara, pihak yang yang merusak mushala adalah oknum yang mengatasnamakan ormas Panji Yosua dan Brigade Manguni.

MUI Minahasa Utara juga sudah komunikasi dengan ketua ormas Panji Yosua dan Brigade Manguni. Ketua kedua ormas tersebut menegaskan tidak mengeluarkan perintah merusak rumah ibadah dan mendukung penangkapan oknum yang mengatasnamakan Panji Yosua dan Brigade Manguni saat merusak rumah ibadah.

MUI Minahasa Utara menduga ada orang yang menghasut masyarakat untuk mencabut dukungannya. Hingga puncaknya terjadi perusakan mushala yang didalangi oleh provokator.

MUI Minahasa Utara mengimbau kepada umat Islam untuk bisa menahan diri dan menyerahkan proses hukum ke kepolisian. Mengenai provokator kerusuhan, pihak kepolisian menyampaikan sudah ada empat orang yang diamankan.

 khazanah.republika/admin