Wakil Ketua Komisi Hukum, Majelis Ulama Indonesia, Anton Tabah mengatakan perusakan rumah ibadah umat Muslim membuktikan siapa yang radikal dan intoleran. Pernyataan Anton itu merespons perusakan terhadap Musala di Perum Agape, Tumaluntung, Minahasa Utara.

Anton mengatakan bahwa berdasarkan kasus banyaknya rumah ibadah umat Islam yang dirusak, maka hal itu bisa membuka mata pemerintah, siapa sebenarnya yang intoleran dan radikal.

Selama ini umat Islam, kata Anton, selalu menerima cap radikal dan intoleran. Padahal, umat Islam selama ini tidak pernah mengganggu apalagi merusak rumah ibadah umat lain.

Anton mengatakan, menyelesaikan silang selisih rumah ibadah di berbagai daerah memang sering menemukan masalah komunikasi antar umat beragama. Untuk itu harus dibangun komunikasi yang lebih komunikatif mengedepankan pendekatan sosial yang beradab.

Menurutnya, jika memang di sekitar tempat tersebut belum ada rumah ibadah, padahal sangat dibutuhkan oleh warga setempat maka boleh dibangun rumah ibadah. Hal tersebut jika sudah ada tanda tangan warga setempat bisa jadi bahan pertimbangan.

Purnawirawan Polri ini mengingatkan, semua warga Negara Indonesia tanpa kecuali tidak boleh mempersulit apalagi menghalang-halangi ibadah umat lain. Kebebasan ibadah diatur undang-undang dan Pancasila.

 khazanah.republika/admin