Komisi Hak Asasi Manusia Antarnegara ASEAN atau AICHR menyatakan, proses repatriasi atau pemulangan kembali masyarakat etnis Rohingya ke tanah negara bagian Rakhine, Myanmar, harus memperhatikan keselamatan sebagai aspek utama. Dengan adanya garansi keselamatan di Myanmar, para pengungsi Rohingya akan mau kembali ke Rakhine.

Perwakilan Indonesia untuk AICHR, Yuyun Wahyuningrum, meyakinkan bahwa, tanpa dibujuk pun, jika para pengungsi yakin ada garansi atas keselamatan, mereka akan kembali ke rumah.

AICHR pun menyoroti laporan Pusat Koordinasi Negara-negara ASEAN untuk Bantuan Kemanusiaan dalam Bencana terkait pengungsi Rohingya.

Yuyun mengatakan, perlu ada perhatian yang sama besarnya untuk menampung suara para pengungsi Rohingya di luar Myanmar, misalnya yang ada di Cox’s Bazar, Bangladesh, sama halnya dengan para pengungsi di dalam Myanmar sendiri.

Terlepas dari suara yang sama antara ASEAN dan Myanmar untuk mengutamakan repatriasi, Indonesia memandang adanya potensi masalah pada para pengungsi di pusat pengungsian. Misalnya, dengan pengungsi yang tidak dapat bekerja, ada kekhawatiran kasus kejahatan yang meningkat. Hal itu menjelaskan bahwa ada atau tidak repatriasi, sesungguhnya telah ada banyak persoalan.

Lebih jauh, AICHR menggarisbawahi soal kewarganegaraan warga Rohingya. Ia mengatakan, sangat jelas bahwa orang-orang Rohingya meminta untuk menjadi warga negara yang diterima, karena dengan begitu mereka bisa mendapat akses pelayanan dasar.

(hidayatullah/admin)