Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza mengatakan bahwa rumah sakit-rumah sakit yang ada di Jalur Gaza mengalami krisis kekurangan obat-obatan dan kebutuhan medis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kementerian Kesehatan menegaskan krisis ini adalah krisis yang paling sulit selama tahun-tahun blokade yang diberlakukan penjajah Israel dan sekutunya terhadap Jalur Gaza.

Jurubicara Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, Asyraf Qudra, pada Selasa malam menjelaskan bahwa kebutuhan tahunan kementerian kesehatan pada obat-obatan dan kebutuhan medis mencapai 40 juta dolar. Dalam selama paroh pertama tahun 2019 ini hanya tersedia 10 juta dolar untuk kebutuhan obat-obatan dan keperluan lainnya. Dana tersebut berasal dari berbagai pihak. Itu artinya, angka ini hanya cukup untuk menutupi separoh dari kebutuhan obat-obatan di Jalur Gaza dalam enam bulan.

Kelangkaan ini menyebabkan 50% pasien di Jalur Gaza tidak mendapatkan perawatan. Dia menyerukan semua pihak untuk mengambil langkah dan tindakan mendesak serta efektif untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan bagi para pasien. Diantara kebutuhan medis yang berada di ambang kritis adalah untuk penderita tumor, penyakit darah, imunitas, untuk ginjal dan berbagai jenis susu terapeutik dan obat-obatan neurologis dan psikologis serta penyakit-pernyakit kronis, wanita hamil dan anak-anak serta perawatan primer.

(melayu.palinfo/admin)