Ribuan warga Palestina berkumpul di dekat pagar perbatasan Israel untuk memperingati satu tahun Kepulangan Akbar. Puluhan sukarelawan dengan rompi berwarna terang telah bersiap untuk menahan demonstran agar tidak terlalu dekat dengan pagar perbatasan.

Sejumlah ambulans juga telah disiagakan di depan klinik medis, dan petugas keamanan Hamas di lokasi demonstrasi terlihat mengenakan seragam militer untuk pertama kalinya. Dilaporkan Aljazirah, beberapa pengunjuk rasa mulai mendekati pagar perbatasan yang dapat memicu tentara Israel menembakkan gas air mata.

Pagar perbatasan Gaza dan Israel selama setahun terakhir menjadi tempat aksi protes dan pertumpahan darah terbesar di mana lebih dari 260 warga Palestina terbunuh, serta hampir 7 ribu terluka. Mereka tewas akibat tembakan dari penembak jitu Israel.

Ketegangan telah meningkat di sepanjang perbatasan Israel-Gaza menjelang peringatan satu tahun aksi Kepulangan Akbar. Ketegangan kedua pihak dimulai ketika Palestina meluncurkan roket dari Gaza ke sebuah desa di utara Tel Aviv beberapa waktu lalu.

Para mediator Mesir telah berupaya untuk mengantisipasi pertumpahan darah lebih lanjut. Mesir telah menjadi penengah bagi Hamas dan Israel untuk melakukan gencatan senjata.

Pada malam peringatan, panitia penyelenggara mengeluarkan instruksi kepada para demonstran agar menjauh dari senjata Israel, dan tidak melakukan tindakan agresif. Hal ini sebagai langkah bahwa kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Mesir dapat ditaati oleh kedua belah pihak.

Surat kabar al-Risalah yang berafiliasi dengan Hamas melaporkan pada Jumat malam bahwa kesepakatan antara Hamas dan Israel telah tercapai.

Sebagai imbalannya, Israel telah berupaya mengakhiri tembakan roket yang dapat memicu peningkatan eskalasi. Selain itu, Israel yang telah mengirim pasukan dan tank tambahan ke perbatasan juga memberikan jaminan ketenangan di pagar perbatasan.

(republika/admin)