Sahabat hijrah yang dirahmati Allah , ketaatan kepada Allah  dan Rasulullah  adalah ketaatan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Ketaatan kepada syariat tidak mengenal kompromi. tidak ada ketaatan yang dikorting dengan alasan ketinggalan zaman atau tidak relevan.

Sahabat, berkaitan dengan hal ini Allah  berfirman di dalam quran surat an-Nur ayat 51 yang berbunyi.

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum atau mengadili di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Nah sahabat, dari ayat tersebut, Allah  memerintahkan kita untuk mendengar dan taat terhadap apa-apa yang telah digariskan oleh Syariat. Allah  menyuruh kita berbuat A, maka kita harus melakukan A. ketika Allah  melarang kita B, maka kita harus manut meninggalkan B.

Oleh karena itu, tidak diterima keimanan kita jika kita menolak apa yang telah Allah  perintahkan dan yang telah Allah larang, yang mana semuanya telah dibawa oleh Rasulullah  sebagai penyampai risalah dari Allah .

Nah sahabat, berkaitan dengan ketaatan kepada Rasulullah , Allah berfirman di dalam quran surat an-Nisa ayat 65.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi  Rabbmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan,

kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Sahabat hijrah, ada kisah keteladanan tentang ketaatan dari sahabat Rasulullah  bernama Hudzaifah Ibnu Yaman.

Kisah ini adalah berkaiatan dengan salah satu peperangan yang pernah dilalui oleh Rasulullah , yakni perang ahzab atau perang khandaq.

Perang khandaq adalah salah satu perang yang sangat berat yang dialami oleh kaum muslimin di Madinah. dimana pada perang ini, Rasulullah   dan para sahabat memainkan strategi defensive atau bertahan.

Mereka menggali parit untuk menghalangi musuh supaya tidak memasuki kota madinah. sementara mereka mengalami kelaparan dan kepayahan yang sangat. di luar kota musuh mengepung dan siap menyerang. coba sahabat bayangkan, bagaimana kondisi dan perasaan kaum muslimin kala itu.

Nah sahabat, dalam keadaan yang mencekam itu, Rasulullah   memberikan tugas yang amat menantang. Memata-matai musuh di seberang. Rasulullah   bersabda. “Adakah orang yang bersedia mencari berita musuh dan melaporkannya kepadaku. Mudah-mudahan Allah menjadikannya bersamaku pada hari kiamat”.

Tapi para sahabat bergeming, Keadaan yang mencekam lebih menusuk ke dalam kalbu mereka, dibanding apa yang telah Rasulullah  janjikan.

Rasulullah   pun sampai mengulangi sabdanya tiga kali. Tetap, tak ada satupun yang beranjak. Tiba-tiba, Rasulullah   langsung menunjuk seseorang.  “Bangkitlah, wahai Hudzaifah. Carilah berita dan laporkanlah kepadaku!.”

Mau tidak mau, Hudzaifah bangkit dari duduknya demi melaksanakan apa yang Rasulullah  perintahkan.

Lihatlah Hudzaifah, sahabat hijrah.  Beliau memang memiliki sisi kemanusiaan yang tidak bisa diingkari, merasa berat memang wajar dan manusiawi, pada saat itu sahabat-sahabat lainnya yang senior juga enggan mengajukan diri, hati mereka merasa gugup,

Namun Hudzaifah bangkit, Ia berangkat. Demi mematuhi sebuah perintah yang telah terucap dari lisan orang yang paling dicintai. Hudzaifah mendengar dan ia taat.

Nah sahabat, kita kembali kepada realita saat ini. Banyak diantara kita yang telah mengetahui hukum syariat, tahu ini haram tapi masih melakukannya dengan banyak alasan, tahu ini wajib tapi masih meninggalkannya dengan berbagai alasan juga.

Sebagai contoh, banyak para perempuan muslimah yang belum menutupi rambut mereka dengan alasan gerah dan panas. Padahal jika dibandingkan panasnya neraka karena melanggar kewajiban, gerah di dunia tidak ada apa-apanya.

Ada lagi diantara lelaki yang enggan memelihara jenggot sebagai bentuk sunnah yang dianjurkan dengan alasan malu dan takut disebut macam-macam. Padahal muslim yang baik itu adalah muslim yang bangga dengan yang telah Allah  dan Rasulullah  perintahkan. Bagaimana jadinya jika seorang muslim yang mengaku mencintai Rasulullah  tapi malu mengamalkan sunnahnya?. Naudzubillah.

Sementara di lain kasus ada juga orang yang enggan meninggalkan riba dengan alasan takut tidak bisa ngasih makan anak istrinya. Padahal yang menjamin rezeki itu Allah , Allah  tidak akan membiarkan hambaNya begitu saja setelah berusaha terlepas dari kubangan harta yang haram.

Nah, ini juga menandakan bahwa orang tersebut kurang atau tidak percaya terhadap janji Allah , atau Naudzubillah-orang yang bersangkutan sok tahu. Dia seakan-akan yakin bahwa dia tidak bisa mendapatkan rezeki selain dari pekerjaannya yang haram tersebut. Padahal Allah yang memberinya rezeki.

Oleh karena itulah sahabat, ketaatan dan kepatuhan terhadap aturan syariat ini berkaitan dengan kuatnya iman yang ada dalam diri kita. Jika seseorang menolak apa yang telah Allah  dan RasulNya tetapkan berarti dia memiliki iman yang cacat. atau bahkan bisa jadi menjadi kafir. Ini terjadi bila yang bersangkutan menolak apa yang telah Allah perintahkan dan tetapkan dalam hukumNya, dia menganggapnya tidak relevan, ketinggalan zaman dan menyatakan bahwa hukum Allah  tidak lebih baik dibanding hukum yang lainnya. ini adalah bentuk kekafiran terhadap Allah .

Sahabat hijrah, kita berdoa kepada Allah  semoga Allah  selalu membimbing kita dalam kebaikan dan menjadikan kita sebagai hamba yang selalu taat dan patuh terhadap apa yang telah Allah  gariskan di dalam hukum-hukum-Nya.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Marhaban Romadhon SImpatiFM