Assalamu ‘alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,

Pembaca yang dirahmati Allah... Ahlus Sunnah meyakini bahwa seorang pelaku dosa besar tidaklah divonis kafir kecuali bagi mereka yang menghalalkan perbuatan dosa tersebut. Akan tetapi dosa besar tersebut membahayakan dan mengurangi keimanannya serta menjadikan seorang muslim dalam bahaya besar di dunia dan akhirat, kecuali jika ia telah bertaubat dari dosa tersebut.

Pada kesempatan kali ini kita akan mengkaji beberapa dalil yang menguatkan kaidah ahlus sunnah tentang pelaku dosa besar.

Imam Bukhori meriwayatkan sebuah kisah Hathib bin Abi Balta’ah yang menyampaikan berita Rasulullah kepada orang-orang kafir secara rahasia. Perbuatannya ini menunjukkan adanya dosa yang dilakukan Hathib dan adanya ampunan untuknya karena dia termasuk sahabat yang ikut perang Badar. Nabi bersabda tentang Hathib :

لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَكُونَ قَدِ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

“Mudah-mudahan Allah telah memperhatikan Ahli Badr, yakni para sahabat yang ikut perang Badar, lalu berkata, “Lakukan semau kalian, sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian”.

Dalam riwayat imam Ahmad, disebutkan Rosululloh bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

“Sesungguhnya Allah telah memperhatikan Ahli, lalu berkata, “Lakukan semaumu, sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu”.

Dalil-dalil tentang prinsip ini banyak dibawakan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Kemudian Pembaca,  di antara dasar yang mendasari kaidah tentang pelaku dosa besar ini dari sisi akal adalah dosa-dosa besar, seperti: mencuri, berzina, minum khamr, membunuh, menuduh berzina, dan lain sebagainya telah ditetapkan adanya hudud. Dan hudud itu adalah pembersih dosa-dosa. Sementara hukuman orang murtad itu dibunuh, bagaimanapun keadaannya. Jadi keberadaan hudud ini membuktikan bahwa dia telah melakukan sesuatu yang tidak menyebabkannya keluar dari agama Islam. karena Nabi bersabda :

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

“Barangsiapa merubah agamanya,maka bunuhlah dia! [HR. Bukhari, Abu Dawud, Nasai dan Ibnu Majah)

Nabi juga bersabda:

لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ الثَّيِّبُ الزَّانِ وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

“Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi Laa ilaaha illa Allah dan aku adalah utusan Allah kecuali dengan salah satu dari tiga yaitu orang yang sudah menikah yang melakukan zina; satu jiwa dibunuh atau diqishash dengan sebab membunuh satu jiwa; dan orang yang meninggalkan agamanya, memisahkan diri dari jama’ah (muslimin). [HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Maksudnya, orang murtad itu termasuk orang yang halal darahnya. Ini menunjukkan bahwa dosa-dosa yang dilakukan seseorang bisa dibersihkan dengan hudud, dan dosa-dosa bukanlah kekafiran. Karena jika merupakan kekafiran, maka pelakunya tentu dibunuh karena murtad, berdasarkan sabda beliau :

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

“Barangsiapa merubah agamanya,maka bunuhlah dia!”.

Kemudian Pembaca yang dirahmati Allah, ketika kita telah memahami bahwa pelaku dosa besar itu tidaklah kafir, maka bagaimana jika seorang muslim bergaul dengan mereka?

Bagaimana hukumnya bermua’amalah dengan para pelaku dosa besar, seperti pezina, homosek dan dosa besar lainnya? Bolehkah berbicara dengan mereka ? Bolehkah mengucapkan salam kepada mereka ? Bolehkah pula berteman dengan mereka dalam rangka mengingatkan mereka akan ancaman Allah dari siksaNya yang pedih?

Maka, jawabnya, Pembaca yang dirahmati Allah, orang yang telah kita ketahui atau paling tidak tertuduh melakukan perbuatan maksiat, wajib untuk dinasehati dan diberi peringatan akan maksiat itu dan akibat jeleknya, dan bahwa maksiat itu termasuk diantara penyebab sakit, mengeras dan matinya hati. Adapun orang yang terang-terangan dan mengakui maksiat itu, maka wajib ditegakkan had pada dirinya dan dilaporkan kepada penguasa.

Kita tidak diperbolehkan berteman dan bergaul dengan orang seperti itu, bahkan sebaliknya mereka wajib diboikot agar mudah-mudahan dia mendapat hidayah Allah dan mau bertaubat. Namun, jika boikot itu justru menjadikan mereka bertambah jelek perilakunya, maka kita wajib selalu mengingkari perbuatan mereka dengan cara yang baik dan nasehat yang terus menerus sampai mereka mendapat hidayah dari Allah.

Kita tidak diperbolehkan menjadikan para pelaku dosa besar sebagai teman, bahkan wajib terus mengingkari dan memperingatkan mereka tentang perbuatan mereka yang keji itu. Dan setiap pihak wajib untuk saling tolong menolong dalam memperbaiki kondisi mereka. Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-Ma’idah ayat ke-2

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Artinya : Dan tolong-menolonglah dalam berbuat kebajikan dan ketakwaan”

Juga dalam surat at-Taubah ayat ke-71,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Artinya : Dan orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang makruf, mencegah dari perbuatan yang mungkar.”

Begitupula berdasarkan sabda Nabi . Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Rosululloh bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaknya dengan lisannya. Dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman” Riwayat Muslim.

Dalam hadits yang lain, masih riwayat Imam Muslim, Nabi bersabda,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Artinya : Agama itu nasihat. Ditanyakan kepada beliau, “Nasihat untuk siapa wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk kitabNya, untuk RasulNya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin umumnya”

Dan Pembaca yang dirahmati Allah, ayat serta hadits yang mengandung makna ini amatlah banyak.

Akhirnya, Kita memohon kepada Allah semoga Dia memperbaiki keadaan kaum muslimin, menjadikan mereka paham akan ajaran agamanya sehingga menjauhi segala bentuk dosa, khususnya dosa besar. dan melimpahkan taufiqNya kepada kaum muslimin untuk nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran, serta menyatukan kalimat mereka, Aamiin.

Wallohu a’lam.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.