Korban tewas akibat serangan udara milisi yang menamakan diri Tentara Nasional Libya pimpinan Khalifah Haftar bertambah menjadi 60 orang. Sementara korban luka-luka terdata sebanyak 130 korban.

Mayoritas para korban merupakan pengungsi yang menghuni shelter pengungsi di distrik Tajura, pinggiran Tripoli. Shelter tersebut menjadi penampungan imigran ilegal yang tertangkap saat mencoba menyeberang ke Eropa dari Afrika.

Sebelumnya, PBB mengatakan korban tewas berjumlah 44 orang. PBB menggambarkan bahwa serangan ini sudah masuk dalam taraf kejahatan perang.

Sebelumnya, Reuters mengutip dari pernyataan juru bicara Pusat Pengobatan dan Dukungan Lapangan, mengonfirmasi bahwa sebanyak 120 korban terbunuh atau terluka akibat serangan itu.

Ini merupakan jumlah korban tewas tertingi dalam serangan udara atau darat sejak milisi Haftar meluncurkan kampanye militer menyerang ibukota Tripoli.

Haftar menuduh pemerintahan yang diakui internasional itu pendukung kelompok teroris. Hal itu karena Pemerintah Rekonsiliasi bekerja sama dengan kelompok-kelompok bersenjata Islamis, khususnya afiliasi Ikhwanul Muslimin.

Konflik menjadi bagian dari kekacauan di negara penghasil minyak dan gas sejak pemberontakan yang menggulingkan Muammar Gaddafi pada tahun 2011.

Pemerintah Rekonsiliasi mengutuk keras kejahatan keji di Tajura tersebut dalam sebuah pernyataan. Pernyataan itu juga menuduh pasukan Haftar yang melakukan serangan tersebut.

(kiblat/admin)