Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa mendesak Bulgaria untuk tidak memulangkan warga Uighur kembali ke Tiongkok. Menurut pengadilan, pemulangan warga Uighur ke cina bisa beresiko penganiayaan. Jika deportasi dilakukan, maka hal itu sebagai bentuk pelanggaran negara anggota uni eropa untuk melindungi mereka yang harus dilindungi.

Memulangkan secara paksa warga Uighur ke Cina, atau mengirim mereka ke negara ketiga yang tidak dapat menjamin mereka sebagai tempat tinggal yang aman, akan melanggar hak mereka untuk hidup dan diperlakukan tidak manusiawi.

Pengadilan hak asasi manusia eropa mengutip keluhan dari warga Uighur bahwa jika mereka kembali ke Tiongkok mereka akan menghadapi penganiayaan, perlakuan buruk, dan penahanan sewenang-wenang serta kemungkinan eksekusi.

Otoritas di Daerah Otonomi Xinjiang Uyghur Tiongkok barat laut diyakini telah menahan sekitar 1,8 juta warga Uighur dan minoritas Muslim lainnya di jaringan kamp penampungan yang luas sejak April 2017. Awalnya Beijing menyangkal keberadaan kamp-kamp itu, namun kini mengakui keberadaan kamp dan mulai menggambarkan fasilitas sebagai “sekolah asrama” yang menyediakan pelatihan kejuruan. Tetapi laporan media menunjukkan bahwa mereka yang berada di kamp menjadi sasaran indoktrinasi politik.

Para tahanan juga secara rutin menghadapi perlakuan kasar di tangan pengawas, dan menjalani kehidupan yang buruk serta kondisi yang tidak higienis di kamp yang penuh sesak.

  arrahmah/admin