Penyelidik dari Pengadilan Kriminal Internasional atau ICC, mulai mengumpulkan bukti-bukti tentang dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Myanmar terhadap Muslim Rohingya. Banyak dari Rohingya telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh akibat kekerasan.

Pihak kejaksaan ICC pada Selasa, mengatakan bahwa tim penyelidik sedang mengunjungi kamp-kamp pengungsi untuk mengumpulkan bukti. Mereka mengklaim akan menegakkan keadilan, baik Myanmar mau bekerja sama atau tidak.

Bahwa pengadilan yang bermarkas di Den Haag itu akan meneruskan kasus tersebut meskipun Myanmar bukan merupakan pihak dalam Statuta Roma, perjanjian yang membentuk pengadilan.

Di pihak lain, Myanmar membantah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan atau genosida. Mereka mengatakan pengadilan memiliki mandat untuk melanjutkan kasus ini karena Bangladesh adalah pihak dalam undang-undang dan Rohingya melintasi perbatasan ke negara itu.

Penganiayaan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar adalah salah satu tragedi kemanusiaan terburuk, kendati menjadi yang paling diabaikan. Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai salah satu komunitas yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi penganiayaan negara yang sistematis di negara bagian Rakhine utara Myanmar sejak awal 1970-an. (kiblat/admin)