Seorang pria Uighur, Abdurahman Memet ditahan karena membocorkan surat orang tuanya dari dalam kamp pengasingan di Xinjiang.

Memet seorang pemandu wisata di Turpan, tahun lalu menerima surat dari orang tua dan saudara lelakinya. Surat tersebut ditulis dari pusat-pusat penahanan di wilayah paling barat. Sebanyak 1 koma 5 juta Muslim diyakini ditahan dalam pendidikan ulang dan kamp-kamp lainnya.

Dilansir dari Guardian, pada bulan Juli, surat-surat itu diterjemahkan dan diterbitkan dalam Xinjiang Victims Database, sebuah situs penyimpanan dan pengawas publik. Dokumen-dokumen langka, di antara yang pertama dari dalam kamp itu, ​​menyebar dengan cepat secara online. Dalam waktu kurang dari sepekan Memet menghilang.

Keponakan Memet yang tinggal di luar negeri, Muherrem Muhammad ‘Ali mengatakan, pamannya mengiriminya surat-surat sebagai bukti penahanan banyak orang di keluarga mereka. Dia memutuskan menerbitkannya bulan lalu di basis data.

Dalam dua hari setelah dokumen diterbitkan secara online, Memet memberi tahu Muhammad ’ali dia menerima telepon dari polisi yang ingin tahu dengan siapa dia membagikan surat-surat itu. Pada akhir bulan, Muhammad ‘ali mengetahui bahwa pamannya telah ditahan di Turpan. Polisi di Turpan tidak menanggapi permintaan dari Guardian untuk memberikan komentar.

Aktivis mengatakan penahanan Memet menggarisbawahi upaya pemerintah untuk mengontrol informasi yang mengalir keluar dari Xinjiang. Meskipun pejabat mengatakan pengunjung dipersilakan dan semua kebijakan pemerintah sejalan dengan hukum China dan internasional.

internasional.republika/admin

Marhaban Romadhon SImpatiFM