Satu-satunya pabrik farmasi di Jalur Gaza masih tetap berdiri di tengah situasi krisis ekonomi yang mengerikan. Pabrik tersebut berjuang untuk tetap bertahan di tengah blockade Israel selama 12 tahun lamanya.

Ketua Laboratorium Farmasi dan Kosmetika Timur Tengah, Marwan al-Astal, mengatakan pabrik farmasi di Gaza didirikan pada 1994 oleh Laboratorium Farmasi dan Kosmetika Timur Tengah, tetapi produksinya dimulai pada tahun 1999. Pabrik tersebut memenuhi standar internasional untuk pembuatan produk farmasi. Hal ini diungkapkan Marwan kepada kantor berita Cina, senin kemarin.

Pabrik farmasi ini mempekerjakan 60 pekerja. Dua pertiganya adalah apoteker, yang menghasilkan berbagai obat-obatan untuk dipasok ke pasar lokal.

Marwan mengakui, produk obat-obatan itu dijual dengan marjin keuntungan yang rendah untuk membantu meringankan kondisi ekonomi yang mengerikan yang dihadapi oleh warga Gaza. Menurutnya, blokade Israel dan krisis ekonomi yang ditimbulkannya dapat menghentikan bisnis farmasi tersebut.

Meski begitu, lanjut Marwan pabrik masih terus berjuang untuk tetap bertahan. Saat ini pabrik menyediakan 13 obat-obatan yang dibutuhkan oleh pasar lokal. Dia juga menyadari, ada penurunan produksi farmasi yang biasa dibuat dan ekspor ke Tepi Barat dan Aljazair.

Marwan mengungkapkan, hal yang paling berkontribusi signifikan atas penurunan kapasitas produksi pabrik adalah serangan berulang Israel ke pabrik. Bahkan pabrik itu pernah disita oleh tentara Israel selama lebih dari tiga bulan terus menerus.

Pasukan Israel sempat menduduki pabriknya selama konfrontasi militer skala besar dengan faksi-faksi Palestina bersenjata di Jalur Gaza utara. Belum berakhir persoalan tersebut, pabrik juga pernah mendapat beberapa serangan udara Israel, sehingga pabrik terpaksa ditutup sementara untuk memperbaiki kerusakan.

Menurut Marwan, blokade Israel telah menjadi penghalang terbesar terhadap proses produksi dan pengembangan pabrik. Sejak blokade diberlakukan pada 2007, pihak berwenang Israel mencegah masuknya banyak bahan baku yang diperlukan untuk industri farmasi. Sehingga mengurangi tingkat produksi bahkan sampai 80 persen. (republika/admin).

Marhaban Romadhon SImpatiFM