Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ وَالصَّلاَة وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسَوُلِ اللهِ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّا بَعْدُ

Pembaca yang dirahmati Allah  di manpun Anda berada. Anggapan yang telah menyebar di kaum muslimin pada umumnya, bahwasanya yang disebut wali Allah adalah orang-orang yang memiliki kekhususan-kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa. Yaitu mampu melakukan hal-hal yang ajaib yang disebut dengan karomah para wali. Sehingga jika ada seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi tentang syari’at Islam namun tidak memiliki kekhususan ini maka kewaliannya diragukan. Sebaliknya jika ada seseorang yang sama sekali tidak berilmu bahkan melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah dan meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala, namun dia mampu menunjukan keajaiban-keajaiban yang dianggap karomah maka orang tersebut bisa dianggap sebagai wali Allah.

Hal ini disebabkan karena sebagian mereka sejak kecil telah ditanamkan pemahaman yang kurang tepat ini. Apalagi ditunjang dengan sarana-sarana elektronik seperti adanya film-film para sunan yang menggambarkan kesaktian para wali. Tentunya hal ini adalah sangat berbahaya yang bisa menimbulkan rusaknya aqidah kaum muslimin.

Pembaca yang budiman. Ketahuilah Allah ta’ala telah menjelaskan dalam kitab-Nya dan sunnah Rosul-Nya bahwasanya Allah ta’ala memiliki wali-wali dari golongan manusia dan demikian pula syaithon juga memiliki wali-wali dari golongan manusia. Maka Allah  membedakan antara para wali Allah dan para wali syaithon.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh  ayat 256,

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

“Allah adalah wali penolong bagi orang-orang yang beriman. Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir penolong-penolong mereka adalah thogut yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan-kegelapan”. (QS. Al-Baqoroh : 256)

Dalam ayat yang lain Allah  berfirman,

وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيّاً مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَاناً مُبِينا

“Dan barangsiapa yang menjadikan syaithon sebagai wali selain Allah maka dia telah merugi dengan kerugian yang nyata”. (QS. An-Nisa’ : 119)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman yang artinya,

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang kafir berperang di jalan thogut. Maka perangilah para wali-wali syaithon sesungguhnya tipuan syaithon itu lemah”. (QS.An-Nisa’ : 76)

Dari ayat-ayat tersebut, maka wajib bagi kita untuk membedakan manakah yang merupakan wali-wali Allah dan manakah yang merupakan wali-wali syaithon, sebagaimana Allah dan Rasulullah membedakannya.

Pembaca yang dirahmati Allah  di manpun Anda berada. Adapun definisi wali adalah. Wali diambil dari lafal al-walayah artinya adalah al-mahabbah, kecintaan dan al-qorbu, kedekatan. Jadi wali artinya yang dekat.

Pembaca yang budiman. Siapakah yang disebut wali Allah?, Yang disebut wali Allah adalah orang yang dia mencintai Allah ta’ala dan dekat dengan Allah ta’ala. Dan orang seperti ini harus memiliki sifat-sifat berikut,

Yang pertama. Dia harus ittiba’, mengikuti Nabi , menjalankan perintah Nabi dan menjauhi larangan-larangan beliau.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, Jika kalian mencintai Allah maka ikutlah aku maka Allah akan mencintai kalian dan memaafkan kalian dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali Imron: 31)

Ayat ini merupakan ayat ujian yang turun untuk menguji orang-orang yang mengaku mencintai Allah ta’ala termasuk di dalamnya orang yang mengaku dia adalah wali Allah. Jika dia benar mengikuti Nabi maka kecintaannya kepada Allah ta’ala adalah benar, dan jika tidak maka cintanya adalah dusta.

Yang kedua, Dia harus bersifat lembut kepada kaum muslimin dan keras kepada kaum kafir, dan berjihad di jalan Allah dan tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela, hal ini sesuai dengan firman Allah ta’ala.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Maidah : 54)

Hal ini sangatlah bertentangan dengan sifat sebagian orang yang mengaku dirinya wali, atau dianggap wali oleh masyarakat yang sifatnya sangat dekat dengan orang-orang kafir, bahkan mengagumi orang-orang kafir.

Pembaca yang budiman. kemudian sifat yang ketiga adalah. Dia harus beriman dan bertaqwa, yaitu beriman dengan hatinya dan bertaqwa dengan anggota tubuhnya, Allah ta’ala berfirman,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa”. (QS. Yunus : 62-63)

Maka barangsiapa yang mengaku sebagai wali Allah namun tidak memiliki sifat-sifat ini maka dia adalah pendusta. dan Anda jangan percaya kepada mereka.

Pembaca yang dirahmati Allah . Ada pertanyaan yang sangat keliru sekali yaitu, Apakah seorang yang kurang waras akalnya dapat menjadi Wali ?

Ada persangkaan sebagian orang yang menganggap seorang kurang waras akalnya atau gila sebagai wali. Bahkan sebagian orang meyakini bahwa orang gila tersebut katanya telah sampai kepada derajat kewalian jika telah gila dan tatkala ia belum gila ia belum menjadi wali sejati.

Pembaca yang budiman. Perlu kita ketahui bahwa orang gila yang diangkat pena darinya maka ibadahnya tidak sah berdasarkan kesepakatan para ulama, seperti sholat, puasa, dan ibadah-ibadah yang lainnya. Tidak sah keimanan yang dilakukannya dan tidak sah pula jika ia melakukan kekufuran. Selain itu bahkan menurut seluruh orang yang berakal bahwasanya orang gila tidak layak untuk mengerjakan urusan-urusan duniawi.

Pembaca yang budiman. Jika orang gila tidak sah keimanannya, ketakwaannya, demikian juga taqorrub nya kepada Allah  dengan melaksanakan peribadahan, maka tidak boleh seorangpun yang meyakini bahwa ia adalah wali Allah, apalagi dalihnya adalah karena mukasyafat yang ia dengar dari orang gila tersebut atau karena perbuatan orang gila itu seperti ia telah melihat orang gila itu menunjuk kepada seseorang lalu orang tersebut meninggal atau terkapar. Karena sesungguhnya telah diketahui bahwasanya orang-orang kafir dan orang-orang munafik dari kalangan kaum musyrikin dan ahlul kitab mereka juga memiliki mukasyafaat yaitu dapat mengungkap tabir rahasia. dan perbuatan-perbuatan yang dibantu syaitan seperti para dukun dan tukang sihir. Maka tidak boleh bagi seorangpun hanya sekedar berdalih dengan hal-hal tersebut untuk menunjukan bahwa seseorang adalah wali Allah.

Pembaca yang dirahmati Allah . Demikianlah sikap ahlus sunnah tentang karomah, semoga dengan pembahasan kali ini kita dapat mengambil manfaat dan menambah ilmu keislaman kita. Wallahua’lam.,

Wassalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.