Setelah serangkaian ledakan bom mengguncang hotel-hotel dan gereja-gereja saat kebaktian Paskah di Sri Lanka, kekhawatiran atas serangan teror lanjutan muncul. Aksi teror disebut dapat digunakan untuk mengobarkan konflik etnis dan agama di negara itu, khususnya terhadap Muslim minoritas.

Dua kelompok Muslim di Sri Lanka mengutuk serangan pada Ahad tersebut. Dewan Muslim Sri Lanka mengatakan mereka berduka atas hilangnya orang tak bersalah oleh gerilyawan yang berusaha memecah-belah kelompok agama dan etnis. All Ceylon Jammiyyathul Ulama, sebuah badan ulama Muslim, mengatakan bahwa menargetkan tempat-tempat ibadah Kristen tidak dapat diterima.

Muslim di Sri Lanka menempati 9 persen dari 21 juta penduduknya, dan sebagian besar tinggal di bagian timur dan tengah pulau itu. Beberapa kelompok Buddha Sinhala mengancam Muslim dan bisnis mereka di media sosial, sementara serangan terhadap masjid dan properti milik Muslim dilaporkan terus berlanjut.

(kiblat/admin)