Pemerintah Cina secara resmi mengundang delegasi Turki ke wilayah Xinjiang untuk mengamati situasi penduduk asli Turki Uighur. Demikian kata Direktur Komunikasi, Fahrettin Altun melalui Twitter.

Berdasarkan undangan resmi Presiden Republik Rakyat Tiongkok, Xi Jinping, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengunjungi negara itu pada 2 Juli. Kedua pemimpin bertemu untuk ketiga kalinya dalam sebulan. Altun kemudian menyatakan bahwa keduanya membahas perdagangan, hubungan bilateral, investasi, penelitian dan pengembangan, penerbangan sipil, pariwisata dan budaya.

Turki telah meminta Cina untuk menghormati hak-hak dasar orang Turki Uighur dan menutup kamp konsentrasi. Sementara Cina mendapat kecaman dari pemerintah dan pengawas hak asasi manusia karena secara sewenang-wenang menangkap lebih dari 1 juta warga Uighur, menyiksa dan mencuci otak mereka di pusat-pusat konsentrasi dan penjara.

Daerah Otonomi Uighur Xinjiang di bagian barat Cina adalah rumah bagi sekitar 10 juta warga Uighur. Kelompok Muslim Turki, yang membentuk sekitar 45 persen dari populasi Xinjiang, telah lama menyuarakan bahwa pemerintah Cina melakukan diskriminasi budaya, agama dan ekonomi.

Kunjungan Erdogan terjadi setelah pertemuan puncak G20 di Osaka, Jepang, yang diadakan selama akhir pekan.

(kiblat/admin)