Sahabat yang budiman dimana saja saat ini anda berada, Tatkala Rasulullah pergi dari perundingan beliau dengan Musyrikin Quraisy, Abu Jahal dengan sombongnya berkata kepada kaum Quraisy,

wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya Muhammad sebagaimana yang telah kalian saksikan, hanya ingin mencela agama dan nenek moyang kita, membuyarkan angan-angan serta mencaci Robb-Robb kita. Sungguh aku berjanji atas nama Allah untuk duduk didekatnya dengan membawa batu besar yang mampu aku angkat dan akan aku hempaskan ke kepalanya saat dia sedang sujud dalam shalatnya. Maka saat itu, kalian hanya memiliki dua pilihan, membiarkanku atau mencegahku. Dan setelah hal itu terjadi, maka Banu ‘Abdi Muththalib bisa berbuat apa saja yang mereka mau”. Mereka pun menjawab: “demi Allah! kami tidak akan pernah membiarkanmu untuk melakukan sesuatupun. Pergilah kemana yang engkau mau”.

Sahabat yang budiman, Ketika paginya, Abu Jahal rupanya benar-benar mengambil batu besar sebagaimana yang dia katakan, kemudian duduk sambil menunggu kedatangan Rasulullah . Rasulullah pun datang dan melakukan seperti yang biasa beliau lakukan. Beliau berdiri lalu melakukan shalat sedangkan kaum Quraisy juga sudah datang dan duduk di perkumpulan mereka sembari menunggu apa yang akan dilakukan oleh Abu Jahal. Manakala Rasulullah sedang sujud, Abu Jahal pun mengangkat batu tersebut kemudian berjalan menuju ke arah beliau hingga jaraknya sangat dekat sekali akan tetapi anehnya dia justru berbalik mundur, merasa ciut, wajahnya pucat pasi dan dirundung ketakutan. Kedua tangannya sudah tidak mampu lagi menahan beratnya batu hingga dia melemparnya. Menyaksikan kejadian itu, para pemuka Quraisy segera mendatanginya sambil bertanya, “ada apa denganmu wahai Abu al-Hakam?”. Ia pun menjawab, “aku sudah berdiri menuju ke arahnya untuk melakukan apa yang telah kukatakan semalam, namun ketika aku mendekatinya seakan ada onta jantan yang menghalangiku.

Demi Allah! aku tidak pernah sama sekali melihat sesuatu yang menakutkan seperti rupanya, juga seperti punuk ataupun taringnya. Binatang itu ingin memangsaku”.

Mengenai hal tersebut, Ibnu Ishaq rohimahulloh berkata, “disebutkan kepadaku bahwa Rasulullah bersabda: ‘itu adalah Jibril ‘alaihissalaam ; andai dia (Abu Jahal-red) mendekat pasti akan disambarnya”.

Sahabat yang budiman, Manakala kaum Quraisy gagal berunding dengan cara merayu, mengiming-iming serta mengultimatum Nabi , demikian juga, Abu Jahal gagal melampiaskan kedunguan dan niat jahatnya untuk menghabisi beliau , mereka seakan tersadar untuk merealisasikan keinginan lainnya dengan cara mencapai jalan tengah yang kiranya dapat menyelamatkan mereka. Mereka sebenarnya, tidak menyatakan secara tegas bahwa Nabi berjalan diatas kebathilan akan tetapi kondisi mereka hanyalah –sebagaimana disifatkan dalam firmanNya-

sesungguhnya mereka (orangorang kafir) dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap al-Qur’an” (Q.S.11/Hûd: 110).

Karenanya mereka melihat perlunya mengupayakan negosiasi dengan beliau dalam masalah agama. Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan sanadnya, dia berkata: “al-Aswad bin al- Muththalib bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, al-Walîd bin al-Mughîrah, Umayyah bin Khalaf serta al-‘Âsh bin Wâil as-Sahmiy (mereka ini merupakan orangorang berpengaruh di tengah kaum mereka) menghadang Rasulullah yang tengah melakukan thawaf di Ka’bah sembari berkata, “wahai Muhammad! mari kami menyembah apa yang engkau sembah dan engkau juga menyembah apa yang kami sembah sehingga kami dan engkau dapat berkongsi dalam menjalankan urusan ini. Jika yang engkau sembah itu lebih baik dari apa yang kami sembah, maka berarti kami telah mengambil bagian kami darinya, demikian pula jika apa yang kami sembah lebih baik dari apa yang engkau sembah, maka berarti engkau telah mendapatkan bagianmu darinya”. Lalu Allah menurunkan tentang apa yang mereka katakana, dalam surat al-Kâfirûn semuanya.

Sementara itu dalam riwayat lain, ‘Abd bin Humaid dan selainnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbâs -rauma-iallohu ‘anhuma bahwasanya orang-orang Quraisy berkata, ”andaikata engkau usap Robb-Robb kami, niscaya kami akan menyembah Robbmu”.

Lalu turunlah surat al-Kâfirûn semuanya.

Selain itu, Ibnu Jarîr dan selainnya juga meriwayatkan darinya juga (Ibnu ‘Abbâs ) bahwasanya orang-orang Quraisy berkata kepada Rasulullah , “engkau menyembah Robb kami selama setahun dan kami menyembah Robbmu selama setahun juga”. Lalu Allah Ta’ala menurunkan firmanNya,

Katakanlah: ‘maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?’ “. (Q.S.39/az- Zumar: 64)

Sahabat yang budiman, Manakala Allah Ta’ala telah memberikan putusan final terhadap perundingan yang menyesatkan tersebut dengan pembandingan yang tegas, orang-orang Quraisy tidak berputus asa dan berhenti hingga disitu bahkan semakin mengendurkan daya kompromi mereka asalkan Nabi mau mengadakan beberapa evaluasi terhadap petunjukpetunjuk yang dibawanya dari Allah, mereka berkata (dalam firmanNya) :

datangkanlah al-Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia” (Q.S.10/Yunus: 15).

Lantas Allah Ta’ala juga memotong cara seperti ini dengan menurunkan ayat berikutnya sebagai bantahan Nabi terhadap mereka, beliau berkata (dalam firmanNya),

 

katakanlah: ‘tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Robbku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”. (Q.S.10/Yunus: 15).

Bukan hanya itu, Allah Ta’ala juga mengingatkan akan besarnya bahaya melakukan hal tersebut, dengan firmanNya,

Dan sesungguhnya mereka hampir mamalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami, dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.[73]. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.[74]. kalau terjadi demikian, benar-benarlah, Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami[75]”. (Q.S. 17/al-Isra’: 73-75).

Sahabat yang budiman, mendapatkan jawaban-jawaban telak dari firman Alloh ta’alaa, Kaum Quraisy bingung dan berpikir keras, negosiasi dan kompromi yang diajukan oleh kaum Musyrikun mengalami kegagalan, jalan-jalan yang ada dihadapan mereka seakan gelap gulita. Ketika itulah kaum Quraisy memutuskan untuk menghubungi orang-orang Yahudi sambil memastikan kelanjutan dari perihal Muhammad . Maka mereka tunjuklah an-Nadlar bin al-Hârits untuk pergi menemui orang-orang Yahudi di Madinah bersama dua orang lainnya. Ketika mereka tiba di tempat mereka, para pemuka agama Yahudi (Ahbâr) berkata kepada mereka,

Tanyakan kepadanya (Muhammad-red) tiga hal, jika dia memberitahukannya maka dialah Nabi yang diutus itu, dan jika tidak maka dia hanyalah orang yang ngelantur bicaranya. Yaitu, tanyakan kepadanya tentang sekolompok pemuda yang sudah meninggal pada masa lampau pertama, bagaimana kisah mereka? Karena sesungguhnya cerita tentang mereka amatlah mengagumkan. Juga tanyakan kepadanya tentang seorang laki-laki pengelana yang menjelajahi dunia hingga ke belahan timur bumi dan belahan baratnya, bagaimana kisahnya?. Terakhir, tanyakan kepadanya tentang apa itu ruh?”.

Setibanya di Mekkah, an-Nadlar bin al-Hârits berkata: “kami datang kepada kalian berkat apa yang terjadi antara kami dan Muhammad”. Lalu dia memberitahukan mereka perihal apa yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi. Setelah itu, orang-orang Quraisy bertanya kepada Rasulullah tentang tiga hal tersebut, maka setelah beberapa hari turunlah surat al-Kahfi yang didalamnya terdapat kisah sekelompok pemuda tersebut, yakni Ashhâbul Kahfi dan kisah seorang laki-laki pengelana, yakni Dzul Qarnain. Demikian pula, turunlah jawaban tentang ruh dalam surat al-Isra’. Ketika itu, jelaslah bagi kaum Quraisy bahwa beliau berada dalam kebenaran namun orang-orang yang zhalim itu tidak berkenan selain terhadap kekufuran.

Demikianlah Sahabat yang budiman dimana saja saat ini anda berada, perundingan-perundingan Quraisy terhadap Rosululloh yang tujuannya agar beliau berpaling dari cahaya tauhid. Namun perundingan apapun yang mereka lakukan, tetap saja cahaya tauhid tidak bisa disatukan ataupun tersingkirkan dengan gelapnya Kemusyrikan. Bagaimanakah sikap selanjutnya dari kaum Quraisy, setelah berbagai cara yang mereka lakukan gagal untuk memadamkan cahaya tauhid? Kita akan simak kelanjutan Siroh Nabawiyah, pada edisi berikutnya insyaAlloh. wallohu a’lam.